"Karena dia masih lajang, jadi kita ambil sampel dari orang tuanya. Kita ambil juga data antemortem yang merupakan data berupa kebiasaan, ciri-ciri fisik atau bagian tubuh semua dari ujung rambut sampai ujung kaki, untuk membantu sebagai data-data pencarian dari korban," kata Dokter Biddokkes Polda Jateng, AKP Aditya Kusuma Putra, Sabtu (14/3/2015).
Sementara menurut Staff Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemenlu Tamirin Madisman mengatakan kedatangannya untuk menyampaikan kabar secara langsung pada keluarga dan dalam rangka pengambilan DNA dari ayahnya sambil menunggu proses pencarian kapal yang hilang tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, ada 14 ABK dari 21 ABK yang sudah terdata, diantaranya terdapat di Brebes 5 orang, Banyumas 1 orang, Tegal 3 orang, Pemalang 3 orang, Cirebon 1 Orang dan Majelangka 1 orang.
"Sebelum kapal hilang kontak, nahkoda dan pemilik kapal sempat melakukan komunikasi yang menginformasikan jika kapal mengalami kebocoran. Setelah itu pemilik kapal langsung menghubungi Kementrian Kelautan Perikanan Taiwan untuk menyampaikan kejadian ini," jelasnya.
Pada hari itu juga Kementrian Kelautan dan Perikanan Taiwan langsung menghubungi otoritas terkait di Inggris dan Argentina untuk mengirimkan bantuan. Karena alasan cuaca buruk pada hari itu kedua negara itu belum mengirimkan pencarian ke perairan Falkland tersebut. "Mudah-mudahan masih ada mukjizat, kita tetap berdoa," ujarnya.
(rvk/rvk)











































