Bupati Bone Akan Perbaiki Jembatan Seutas Kawat di 'Kampung JK'

Bupati Bone Akan Perbaiki Jembatan Seutas Kawat di 'Kampung JK'

- detikNews
Kamis, 12 Mar 2015 19:18 WIB
Bupati Bone Akan Perbaiki Jembatan Seutas Kawat di Kampung JK
Jembatan yang memprihatinkan di Bone, Sulawesi Selatan. (Muhammad Nur Abdurrahman/detikcom)
Makassar - Pemerintah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) menyatakan akan segera membangun jembatan gantung di Desa Hulo, Kecamatan Kahu. Dengan demikian anak-anak SD di kabupaten tempat kelahiran Wapres Jusuf Kalla ini tak lagi harus meniti jembatan seutas kawat.

Humas Pemkab Bone Andi Promal Pawi menyatakan, Bupati Bone Andi Fahsar Padjalangi telah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum untuk segera melakukan peninjauan. Seterusnya memperbaiki jembatan yang menghubungkan Desa Hulo dengan Desa Biru, Desa Cenrana dan Desa Palakka itu.

"Bupati merespons positif dan telah memerintahkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum untuk meninjau lokasi jembatan," ujar Andi Promal saat dihubungi detikcom, Kamis (12/3/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disebutkannya, Pemkab Bone juga akan menganggarkan perbaikan jembatan tersebut pada tahun ini. Sumber dananya berasal dari anggaran pemeliharaan jalan dan jembatan.

Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan siswa SD di Desa Hulo terpaksa harus melintasi Sungai Hulo dengan meniti di atas seutas kawat sisa jembatan untuk bisa sampai ke sekolahnya di SD Inpres 657 Hulo.

Di bekas jembatan gantung yang mulai rusak sekitar lima tahun silam ini, siswa-siswa SD setiap pergi dan pulang adu-nyali dengan bergelantungan layaknya sedang bermain outbound, padahal risikonya sangat fatal bila terjatuh.

Siswa-siswa SD ini terpaksa meniti seutas kawat bekas jembatan, sambil berpegangan di kawat lainnya, sebab untuk sampai ke sekolahnya jika harus melewati rute jalur darat menggunakan sepeda motor harus ditempuh sekitar 30 kilometer.

Sedangkan jika menyeberangi sungai Hulo di atas kawat ini para siswa hanya berjalan sekitar 200 meter ke sekolahnya. Titian kawat ini hanya bisa dilalui sekitar lima siswa saja. Jadi setiap jam pergi dan pulang sekolah para siswa harus mengantre untuk menyeberang dengan kawat sisa jembatan.

(rul/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads