Siti mengatakan, untuk penanggulangan kebakaran hutan di Riau, pihaknya telah melakukan berbagai cara, termasuk modifikasi cuaca. Hasilnya titik api di hutan Riau berkurang.
"Kan kita di Senin tanggal 2 Maret sudah mulai modifikasi cuaca, kemudian 5-6 Maret kita nabur. BPPT melakukan penaburan benih-benih hujan, yaitu garam 2,5 ton. Dan Sabtu, Minggunya kami dilaporin hujan deras dan merata dan cuacanya sudah baik," ujar Siti Nurbaya usai rapat dengan Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain hot spot, juga kualitas udara rata-rata baik, karena ada ukurannya. Kalau 1-50 namanya baik, di atas 51 itu sedang dan kalau di atas 100 itu jelek. Jadi saya punya alat kontrol itu juga dan ini laporannya rata-rata kualitas udaranya baik. Berarti hujan deras dan merata sepanjang hari itu ada hasilnya, dan perkiraan saya itu hasil penyebaran 2,5 ton garam oleh BPPT," jelas alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Berikut penjelasan Siti soal jumlah titik api yang dihitung periode 1 Januari-10 Maret 2014 dan 2015.
Riau jumlah titik api di 2014 sebanyak 4.400, sedangkan di 2015 sebanyak 370. Jambi jumlah titik api di 2014 sebanyak 1.244, sedangkan 2015 sebanyak 113.
Sumatera Selatan jumlah titik api di 2014 sebanyak 3.794, sedangkan 2015 sebanyak 52. Kalimantan Barat jumlah titik api di 2014 sebanyak 5.381 sedangkan 2015 sebanyak 122. Kalimantan Tengah jumlah titik api di 2014 sebanyak 5.434, sedangkan 2015 sebanyak 88.
"Cuma di Riau kan begitu ada api kita matiin. Yang agak panjang tempo hari pertengahan Februari, 27-29 ngabisin 473 hektare sudah kebakar tapi sudah kita matiin. Kan jadi dia prinsipnya kalau titik apinya kan nggak bisa ditahan karena datangnya dari alam, tapi kita matiin jadi nggak berkembang lagi," jelas Siti.
(jor/bar)











































