Prabowo bertemu dengan seratusan pendekar dari Pencak Sunda dan Silek Minang di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3/2015). Di situ, ia berbicara mengenai nilai-nilai filosofis seorang pendekar sejati.
Dijelaskan Prabowo, sejak kecil dirinya dididik menjadi pendekar. Dirinya diajarkan dan ditanamkan nilai-nilai luhur seperti; saling menghormati, menjunjung kebenaran, dan segala nilai kebaikan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ajaran leluhur, ajaran utama yang saya terima sebagai pendekar adalah, rame ing gawe, sepi ing pamrih. Berbuatlah banyak pengabdian, jangan menuntut pamrih. Pendekar sejati berbuat untuk orang banyak, berbuat untuk negaranya, tidak untuk dirinya sendiri. Kemudian Semakin berisi semakin menunduk, semakin difitnah semakin memaafkan. Semakin dihujat semakin tenang, bukan semakin marah," sambung Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Prabowo mengatakan, pendekar silat tak kenal kata dendam. Pendekar silat harus bisa membela diri, keluarga, lingkungan, dan negara.
"Bukan mengancam, menindas, atau menyakiti hati orang. Seorang pendekar sejati mengobati yang sakit, bukan menimbulkan kesakitan atau penderitaan," imbuh Prabowo.
Lanjut Prabowo, dirinya melihat bangsa Indonesia tengah terbuai sehingga lupa akan nilai-nilai luhur bangsa. Ia juga menyinggung soal maraknya korupsi di Tanah Air. Makanya, ia berharap nilai-nilai luhur pencak silat ditanamkan kepada generasi penerus bangsa.
"Pencak silat harus dipertahankan sebagai pendidikan watak anak-anak kita. Kalau nilai ini kuat, saya kira korupsi akan berkurang di Republik Indonesia ini. Bagaimana orang mau membela rakyatnya, lingkungannya, daerahnya kalau dia mencuri dari rakyat, berhianat kepada bangsanya?" ucap Prabowo retoris.
Ditambahkan Prabowo, Indonesia akan banyak mendapat ujian hingga tahun-tahun mendatang. Semua pihak harus mawas diri dan melakukan introspeksi. Katanya, sebaiknya nilai-nilai yang tidak baik seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme segera ditinggalkan.
"Sekarang muncul budaya di zaman kita sehari-hari, dimana kita saling sulit percaya , sulit menerima bahwa yang disampaikan para pemimpin itu benar. Banyak saya temukan sekarang di mana-mana berjenjang saling bohong, saling menipu, saling mengerjai satu sama lain. Bukan kebenaran dan keadilan ditegakkan, tapi kekuasaan yang hendak dimanfaatkan," beber Prabowo.
"Sekarang pilihannya adalah, kalau semua lingkungan kita berbondong-bondong melakukan kebohongan, korupsi, ketidakjujuran, apakah salah kalau kita ingin berada di jalan lurus, di jalan yang benar? Itu tantangannya. Kita adalah pendekar, sejak kecil kita dengan keyakinan, bahwa di ujungnya, yang benar akan diridoi Allah," sambung mantan Danjen Kopassus itu.
(bar/erd)











































