Dari 2.693 Penumpang KM Lambelu, Hanya 12 yang Mengaku TKI
Jumat, 04 Feb 2005 13:40 WIB
Jakarta -
Kapal penumpang KM Lambelu merapat di dermaga Tj Priok Jakarta Utara pada pukul 11.05 WIB, Jumat (4/2/2005). Petugas terkait dari berbagai instansi langsung menyambut ketika penumpang dipersilakan turun pada pukul 11.23 WIB."TKI? TKI?" tanya aneka petugas pada penumpang yang masing-masing sarat bawaan saat menuruni tangga. Para penumpang yang kaget dengan kehadiran pertugas itu buru-buru menjawab, "Bukan, bukan!" Penumpang itu pun segera ngeloyor meneruskan perjalannya.Akhirnya, petugas hanya bisa menjaring 12 orang yang dengan sukarela mengaku sebagai TKI. Padahal KM Lambelu berpenumpang 2.693 orang."Para TKI mengalami trauma. Mereka serba ketakutan. Mereka yang mengaku bukan TKI hampir rata-rata bohong," kata petugas Posko TKI dari Depnakertrans, Tatang Kustiana, pada detikcom. Tatang yakin jumlah TKI yang datang dari Malaysia yang menumpang KM Lambelu jumlahnya cukup banyak.Para petugas menyambut TKI yang pulang dari Malaysia yang memanfaatkan masa amesti itu berasal dari perusahaan bus Damri, Dinas Kesehatan, Depnakerstrans, dsb. Tapi kehadiran petugas justru membuat para penumpang panik. Bisa jadi mereka punya pengalaman buruk dengan namanya aparat pemerintah. Buntutnya, mereka pun enggan mengaku sebagai TKI saat ditanya aparat.Padahal niat petugas penyambut TKI itu sungguh mulia. Jika ada TKI sakit, mereka siap mengobati. Juga ada makan siang. Petugas juga akan mengelompokkan TKI berdasar kampungnya untuk selanjutnya diantar ke kawasan terdekat dengan bus Damri. Gratis."Penumpang kapal jumlahnya 2.693 orang. Tapi jumlah TKI tidak bisa dipastikan berapa," kata Ketua Tim Posko Lapangan, Sutirto.Di terminal pelabuhan, ditempatkan banyak kursi berdasar asal daerah TKI. Ada Jawa Tengah, Sulawesi, dll. Tapi kursi sebanyak itu hanya dihuni 12 orang. Ke-12 orang itu berasal dari Jatim (8 orang), Jateng (3 orang) dan NTB (1 orang). Mereka selanjutnya dibawa ke Kamayoran dan diangkut dengan bus Damri menuju kampungnya."Padahal kami hanya ingin mendata, Depsos juga memberikan pelayanan makanan," kata Tatang yang mengeluhkan betapa sedikitnya "klien" yang dia layani.Mengapa para TKI takut didekati petugas? "Sebenarnya kami bulan menolak (dilayani aparat). Tapi saya tidak tahu akan ada yang seperti ini. Kami di Malaysia ketinggalan informasi," kata Andika, TKI yang kepada petugas emoh mengaku sebagai TKI.Andika hendak mudik ke Buton, Sulawesi. Dia menumpang KM Lambelu dari Tanjung Pinang. "Di Tanjung Pinang kami tidak diberitahu adanya pelayanan pemerintah dalam hal seperti ini. Saya langsung membeli tiket dari Tanjung Pinang Rp 550 ribu," ceritanya.Hal senada disampaikan TKW dari Bandung, Ati. "Saya nggak dapat informasi. Saya baru tahu barusan dari pengumuman petugas di depan pintu masuk terminal sini," katanya.Menanggapi hal ini, Sutirto prihatin para TKI tidak mendapat informasi saat berada di Tanjung Pinang. "Padahal pihak Tanjung Pinang mengetahui akan ada pelayanan seperti ini. Tapi mereka tidak dikasih tahu," sesalnya.Sutirto juga menjelaskan, Sabtu besok rencananya akan tiba 300 TKI hasil deportasi di pelabuhan Priok pukul 10.00-11.00 WIB. Mereka akan menumpang KM Samudera Jaya.
(nrl/)










































