Soal Emansipasi Wanita, Mega Sanjung Institusi Polri

Soal Emansipasi Wanita, Mega Sanjung Institusi Polri

- detikNews
Minggu, 08 Mar 2015 20:51 WIB
Soal Emansipasi Wanita, Mega Sanjung Institusi Polri
Jakarta - Emansipasi perempuan yang kian maju membuat Megawati Soekarnoputri bangga. Putri sang Proklamator tersebut memberi contoh bahkan institusi sekelas Polri pun membuka kesempatan bagi wanita dalam meningkatkan karirnya.

"Setelah merdeka, founding fathers begitu arifnya maka di UUD 1945 konstitusi yang menurut saya sangat fenomenal, setiap warga negara punya hak yang sama dalam hukum. Warga negara artinya perempuan dan laki-laki. Dalam hak sudah selesai, tapi masih ada kendala-kendala di lingkungan itu sendiri," ungkap Mega.

Hal tersebut diungkapnya saat berpidato 'Tahun Penentuan Bagi Perempuan Indonesia' dalam peringatan Hari Perempuan Internasional di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakpus, Minggu (8/3/2015). Kendala yang dimaksud adalah salah satunya mengenai bagaimana perempuan kerap diam saat mendapat perlakuan tidak baik dari kaum laki-laki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika itu saya sebagai Presiden saya perjuangkan UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dengan UU Perlindungan anak. Ini kendala datang dari ibu-ibu sendiri. Mohon maaf, jika digaplok suaminya dengan ketegaran diam. Tapi apa itu hak yang sama seperti yang saya bilang tadi konstitusi?" kata Ketum PDIP itu.

Ia juga bercerita, saat jadi presiden dulu Mega juga meminta agar Polri memberikan kesempatan bagi kaum perempuan di institusinya. Menurutnya, langkah tersebut berhasil.

"Saat itu Kapolri saya Pak Dai Bahtiar dan saya paksa. Saya presiden pak, dibukalah yang namanya Akademi Kepolisian itu, perempuan boleh masuk. (Kata Dai) Gimana kalau nggak lulus. Itu urusannya perempuan itu, buka dulu. Sekarang banyak polwan yang cantik-cantik, naik motor bisa, nembak bisa, gaplok orang bisa," kisahnya.

Tahun ini disebut Mega sebagai tahun penentuan bagi kaum perempuan Indonesia. Berbagai kelompok maupun golongan banyak yang memperjuangkan kaum perempuan dan minoritas.

Seperti revisi UU TKI yang kebanyakan perempuan, RUU perlindungan penyandang disabilitas, RUU perlindungan PRT, RUU penghapusan kekerasan seksual, dan perbaikan aturan perkawinan. Namun menurut Mega bukan berarti emansipasi adalah milik perempuan semata.

"Dalam konteks emansipasi, tak boleh ada eksklusifitas bersikukuh mengatakan emansipasi hanya punya perempuan, apalagi sampai membuat garis dikotomi antara perempuan dan laki-laki," tutur Mega.

Ia mengaku beruntung karena kedua orang tuanya selalu memperlakukan sama antara anak perempuan dan laki-laki. Menurut Mega, nasib perempuan ada di tangannya sendiri, bukan bergantung pada orang lain.

"Saya selalu bersaing dengan kakak saya, bahasanya sekarang saya dulu dibully, kata kakak saya perempuan kalau naik pohon yang kecil. Saya tanya kenapa ya, akhirnya saya naik pohon besar. Ditanya kenapa naik pohon besar, lalu saya jawab karena saya sama dengan kamu. Itu artinya kita harus berjuang. Tidak ada yang bisa memperjuangkan perempuan kalau bukan dirinya sendiri. Semua berpulang pada kaum perempuannya sendiri," jelas Mega panjang lebar.

Mega menjelaskan bahwa apa yang ia bicarakan tersebut bukan berarti ia merendahkan kaum laki-laki. Namun ia ingin mengajarkan pentingnya bagi wanita berjuang dan tidak bergantung pada siapapun sebab baik perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama.

"Saya berbicara mengenai masalah perempuan bukan mendiskriminasikan laki-laki ya. Menurut Bung Karno kaum perempuan tetap harus bergerak dan berjuang keras. (Katanya) Nasib wanita tidak di dalam tangannya kaum laki-laki, nasib wanita tidak di tangan seribu dewa dari kayangan, nasib wanita adalah di dalam tangannya sendiri," pungkasnya.

(ear/kha)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini