Ini Pidato Mega di Depan Menteri Perempuan Jokowi

Hari Perempuan Internasional

Ini Pidato Mega di Depan Menteri Perempuan Jokowi

- detikNews
Minggu, 08 Mar 2015 18:20 WIB
Ini Pidato Mega di Depan Menteri Perempuan Jokowi
Jakarta - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri didaulat memberikan pidato budaya dalam peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh hari ini. Ketua Umum PDIP itu berpidato dengan tajuk 'Tahun Penentuan Bagi Perempuan Indonesia'.

Sejumlah menteri perempuan kabinet kerja hadir dalam acara yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini Raya, Jakarta, Minggu (8/3/2015). Menteri Kabinet Kerja yang hadir dan menyimak pidato Megawati antara lain Menko PMK Puan Maharani, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Ibu Negara Iriana tidak hadir karena harus mendampingi Presiden melakukan kunjungan kerja ke Aceh.

Mengawali pidatonya, Mega menyapa satu per satu menteri Kabinet Kerja. Sejumlah candaan hangat seperti Menteri Susi yang lama-lama bakal jadi putri duyung membuat hadirin yang merupakan bidan PTT dan ibu-ibu PKK dari berbagai daerah tertawa. Suasana cair.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mega kemudian berpidato tentang betapa hebatnya founding father Republik Indonesia yang menempatkan kesetaraan hak dalam bidang hukum antara laki-laki dan perempuan. Mega juga berbagi kisah tentang perjuangan perempuan-perempuan hebat sepanjang masa.

"Ketika kita belum merdeka ada seorang perempuan yang sangat terkenal dan sangat arif,
Gayatri, pada zaman Majapahit. Ketika sedang berjuang dalam kemerdekaan di Aceh kita punya pahlawan nasional Cut Nyak Dien yang tidak pernah berhenti sekalipun melawan Belanda sampai akhirnya dia tertangkap di hutan sudah masuk usia 80-an, yang nyerahkan dia ke Belanda oleh tangan kanannya yang tidak tega, beliau justru dimakamkan jauh," kata Mega.

Cerita Mega kemudian sampai kepada Laksamana Malahayati yang memimpin kapal perang ketika melawan Portugis, bahkan sampai bisa membunuh panglima perang Portugis. "Masih banyak kita punya pahlawan wanita, banyak yang nggak mengenal perjuangannya. Ibu Kartini memperjuangkan dan mengatakan ke ayahnya mengapa seorang perempuan harus diperlakukan seperti ini," papar Mega berapi-api.

"Bukankah beliau membuat sekolah. Di Jabar ada Ibu Dewi Sartika, sama perjuangannya soal pendidikan. Di Maluku ada Christina, dan masih banyak lagi. Negeri ini tidak pernah kering lahirnya pelopor berkat seorang perempuan yang melahirkan," imbuh Mega.

Proses penjajahan, menurut Mega, sangat dahsyat dari generasi ke generasi. Namun semangat perjuangan tak pernah padam sampai Indonesia merdeka.

"Di sinilah saya sepakat terhadap pentingnya nasionalisme, atau yang disebut Presiden sebagai revolusi mental," paparnya.

Kisah perjuangan pergerakan perempuan dalam mewujudkan kemerdekaan mengalir sejurus kemudian. Perjuangan perempuan mewujudkan emansipasi jadi catatan penting di tengah proses memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan.

"Bung Karno bikin buku berjudul Sarinah, itu adalah yang mengasuhnya. Pada tahun 1960 Bung Karno menegaskan apa yang diperjuangkan perempuan harus diperjuangkan juga oleh laki-laki. Emansipasi perempuan itu emansipasi laki-laki juga," kata Mega.

Nasib wanita, bagi Mega, tidak di tangan laki-laki saja. Tidak juga di tangan 1.000 dewa, nasib perempuan ditegaskan Mega berada di tangan masing-masing.

"Semangat inilah yang saya harapkan muncul kembali," katanya.

Sekarang ini Mega mengaku cukup bangga, namun di sisi lain juga khawatir. "Kalau saya tanya ke generasi muda kamu mau jadi apa? Saya mau sekolah ke fashion designer, ekonomi manajemen, saya tunggu Bu saya mau jadi astronom, insinyur, ekolog. Mereka ingin mencari yang mudah, matematika dinilai sulit lalu sekolah saja dan dapat gelar, ini lho yang kadang... aduh," kata Mega.

Mega tak bermaksud merendahkan siapa pun. Namun dia ingin mengedepankan kepeloporan wanita itu sangatlah penting. Mega tak ingin perempuan terpinggirkan.

"Contoh, ketika Presiden Gus Dur saya masih wapres begitu banyak organisasi perempuan dan saya diminta hadir. Mereka minta dan harga mati menunjukkan wanita berjuang representasinya di DPR dan DPRD. Saya dengarkan saja karena saya sampai saat ini masih jadi ketum partai tertua," beber Mega.

Untuk itu, menurut Mega, UU tentang perempuan harus diperjuangkan, yang mengatur keterwakilan perempuan 30 persen di parlemen. Mega kini berharap ke depan akan ada lagi pemimpin Indonesia ke depan, jadi dirinya tidak satu-satunya wapres maupun presiden perempuan.

"Kan mestinya paling tidak ada lagi, okelah paling tidak wapres ya. Tapi ibu-ibu jangan tepuk tangn dulu, karena ibu-ibu saya ajak berpolitik sangat sulit saya. Dari pengalaman saya sebagai ketum partai, ada yang kariernya meningkat. Mereka curhat penghalangnya suami sendiri, suruh pilih saya atau karier/partai. Saya tidak bisa memutuskan, saya bilang kamu yang harus memperjuangkan sendiri. Itulah contoh 30 persen, makanya saya mohon masuklah ke politik kalau nggak mau UU diubah," kata Mega disambut tepuk tangan ratusan hadirin.

Mega kemudian mengungkap perjuangannya untuk UU KDRT dan perlindungan anak. Mega merasa wajib memperjuangkan hal itu.

"Orang tua saya dua-duanya progresif, ibu saya lahir di kalangan Muhammadiyah, sebagai anak perempuan saya selalu bersaing dengan kakak saya, bahasa saya dibully. Karena saya sama dengan kamu, itu artinya kita harus berjuang. Waktu itu Kapolri saya Dai Bachtiar, saya bilang buka Akpol untuk perempuan. Ternyata sekarang banyak yang masuk. Aih cantik-cantik, naik motor bisa, nembak bisa, gaplok bisa," kata Mega disambut tepuk tangan dan tawa hadirin.

Mega juga meminta Gubernur seperti Gubernur DKI Tjahaja Purnama (Ahok), agar mempersiapkan toilet untuk disabilitas. Mega menegaskan dirinya pro UU perlindungna disabilitas.

"UU-nya harus dipisahkan, pengadilan anak-anak harus di anak-anak, jangan di pengadilan dewasa," katanya.

Pidato Mega kemudian masuk ke warning agar menghindari HIV/AIDS. Mega menuturkan orang tua tak boleh tinggal diam agar generasi bangsa aman dari virus mematikan tersebut.

"Berapa banyak keluarga yang rusak karena narkotika, HIV/AIDS. Banyak ibu yang malu anaknya kena AIDS dibuang tidak mau tahu lagi, di mana hubungan darah itu? Membuang darah dagingnya. Belum ada obatnya makanya harus pencegahan, dari semua lini. Termasuk ibu-ibu," ujar Mega menasihati.

Mega kemudian menyerukan pentingnya memperkuat kebijakan politik. Termasuk di dalamnya bagaimana sarana dan prasarana pendidikan yang merata sampai ke seluruh pelosok negeri. Mega juga berpesan agar pemerintah menekan harga kebutuhan pokok agar rakyat tidak terbebani.

"Kebutuhan rakyat, satu perjuangan saya dalam kabinet. Harga bahan pokok, apakah kita sudah berdaulat di bidang pangan atau hanya sekadar ketahanan pangan. Harus berani dalam kebijakan politik untuk berani menolak impor. Saya waktu presiden bilang statemen politik, stop import," kata Mega.

"Kalau kita ketemu orang asing saya bilang jangan tanya apa yang saya punya, tapi apa yang saya nggak punya. Diem mereka karena tahu kita punya semuanya, tambang juga punya kita. Di mana nggak berpolitik? Jadi ibu-ibu bilang nggak politik kalau bicarain harga cabe, harga bawang. Itu politik dagang," sambung Mega.

Di akhir pidatonya Mega menyinggung dirinya yang dilahirkan di tengah perang di Yogyakarta. Kala itu para perempuan hanya bekerja di dapur negara.

"Mungkin saya jadi presiden karena dilahirkan saat perang di Yogyakarta, bikin dapur negara. Dia first lady lho tapi bikin dapur negara. Saya ingin lihat begitu lagi, bukan cuma kipas-kipas aja. Ibu-ibu sekarang kalau datang diam, denger ceramah, pulang. Tidak berargumen, berdebat. Ini apa zaman perbudakan? Apa perempuan cuma bisa jadi konco wingking? Zaman apa ini," pungkasnya.


(van/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads