Kata Tetangga Tentang Keluarga Jusman-Ulin yang Menghilang di Turki

16 WNI Menghilang di Turki

Kata Tetangga Tentang Keluarga Jusman-Ulin yang Menghilang di Turki

Rois Jajeli - detikNews
Minggu, 08 Mar 2015 16:42 WIB
Kata Tetangga Tentang Keluarga Jusman-Ulin yang Menghilang di Turki
Rumah Jusman dan Ulin
Surabaya -

Kabar menghilangnya keluarga Jusman-Ulin beserta keempat anaknya di Turki, membuat kaget tetangganya di Jalan Kedungsroko, Tambaksari, Surabaya. Menurut para tetangga, banyak perubahan yang terjadi pada keluarga tersebut dalam 3 tahun terakhir.

Jusman dan Ulin keduanya warga Surabaya. Jusman kabarnya dari Rungkut sedangkan Ulin dari Jalan Kanser, Surabaya. Pasangan suami istri menempati rumah lawas di Jalan Kedungsroko VII. Rumah bermodel kuno tersebut berhadapan langsung dengan sungai kecil.

Jusman dan Ulin tinggal di rumah peninggalan nenek Ulin tersebut sejak sekitar 12 tahun lalu. Rumah tersebut berdampingan dengan rumah kakak kandung Ulin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya tidak ada mencurigakan terhadap kehadiran keluarga Jusman. Jusman juga sering membaur dengan warga sekitar. Bahkan pernah ikut tahlilan dan pengajian serta salat berjamaah di musala di kampung tersebut.

"Memang tinggal di rumah itu. Tapi alamat sesuai kartu identitasnya tetap ikut orang tuanya di Jalan Kanser," ujar Sri Utami, Wakil RW 02 Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, saat bincang-bincang dengan detikcom, Minggu (8/3/2015).

Perubahan pada keluarga Jusman-Ulin ini mulai nampak sejak 3 tahun lalu. Ulin yang awalnya hanya memakai hijab biasa, namun berubah sudah mengenakan cadar. Ulin juga sudah tidak pernah lagi bergabung dengan kegiatan ibu-ibu di kampung tersebut.

Sedangkan Jusman yang sebelumnya sering berjamaah dan membaur dengan warga sekitar termasuk ikut kerja bhakti, sudah berubah dan jarang ikut pengajian dan tahlilan. Sehari-hari, Jusman juga mengenakan celana cingkrang.

"Orangnya memang baik. Bu Ulin juga menyapa kalau berpapasan dengan saya meskipun pakai cadar. Cuma saya menilai ada perubahan sejak 3 tahun lalu," tutur Sri yang juga pernah menjadi Ketua RT 07 RW 02 Kelurahan Pacar Kembang.

Sebelum meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi ke Turki, Ulin sempat menyambangi tetangganya yang baru pulang umrah. Namun, kunjungan tersebut hanya sebentar dan Ulin bersama anak-anaknya terlihat tergesa-gesa pergi.

"Tetangganya pernah melihat Pak Jusman ini membawa barang-barang seperti sepeda anaknya yang kecil, pakaian dinaikkan mobil pikap. Saat ditanya, katanya akan diberikan ke orang lain," tuturnya sambil menambahkan, kejadian seperti pindahan rumah tersebut selang sehari setelah peringatan 40 hari wafatnya ayah Ulin.

Pasangan Jusman-Ulin ini dikaruniai 4 orang anak yakni Urayna Afra (17), Dayyan Akhtar (7), Aura Kordova (9) dan Humaira Hafshah (1). Jusman kabarnya bekerja di pabrik pengalengan di kawasan industri Margomulyo, Surabaya. Sedangkan Ulin, hanya sebagai ibu rumah tangga.

Selama mendidik anak-anaknya, Jusman-Ulin sangat ketat dan tidak memberikan kebebasan anak-anaknya bermain dengan teman sebayanya di kampung tersebut.

"Sehari-hari rumahnya ya tutupan seperti itu. Anak-anaknya juga tidak bermain dengan teman sebayanya di kampung ini. Ketika mendengar anak-anak bermain, (anak keluarga Jusman-Ulil) cuma bisa berteriak dari dalam rumah," ujar salah satu warga lainnya.

Kabarnya, hubungan Ulin dengan saudaranya juga kurang komunikasi. Keluarga ini hanya bicara seperlunya. Bahkan, kadang berbeda pendapat dengan kakak kandungnya yang juga tinggal bersebalahan dengan rumah Ulin.

"Kakaknya Islam tapi biasa-biasa saja. Dan sepertinya pemahaman tentang Islam antara kakaknya dengan Bu Ulin ini beda pendapat dan sering berseberangan," tandasnya.

(roi/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads