Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA) Nasrul Sufi, mengatakan, batu Aceh dikenal dengan harga selangit karena kualitasnya sangat bagus dan tidak pernah dipalsukan. Selain itu, batu asal Tanah Rencong tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia seperti lumut dan giok.
Bukan itu saja, susahnya mendapatkan batu juga menjadi alasan tersendiri mengapa batu tersebut menjadi mahal. Nasrul mencontohkan, jika penambang menemukan 100 Kg giok, yang dapat digunakan hanya 10 Kg.
"Beda dengan batu daerah lain dapat 100 Kg, 80 Kg itu bisa dipakai. Karena batu kita (Aceh) susah dicari makanya batu kita harganya tinggi," kata Nasrul saat ditemui di pameran batu, Sabtu (7/3/2015).
Pameran batu yang berlangsung hingga 10 Maret mendatang digelar di lantai III Pasar Aceh, Banda Aceh. Pameran dan kontes batu untuk memperingati empat tahun GaPBA diikuti oleh peserta dari sejumlah provinsi di Indonesia. 80 stand tersedia di pemeran tersebut.
Menurut Nasrul, kelebihan batu Aceh dibanding batu lain terletak pada kadar kekerasan yang pernah mencapai 7,5 moh atau setingkat batu mulia dan permata. Selain itu, batu Aceh juga memiliki keunikan tersendiri dibanding batu lain.
"Batu kita mempunyai khas tersendiri sehingga orang-orang tidak akan habis melihatnya," ungkap Nasrul.
(gah/gah)











































