Meski sudah berusia senja, Mbah Hadi (80) tetap bekerja semampunya. Dia tidak mau berpangku tangan, meski anak-anak dan cucunya mampu mencukupinya.
Dia setiap hari berjualan ketupat di Pasar Kotagede Yogyakarta. Laku atau tidak adalah hal lain, karena rezeki itu adalah urusan Tuhan. Yang penting bekerja sekuat tenaga atau semampunya.
Dia berjualan di lorong/gang di tengah pasar. Dengan membawa tenggok/bakul dan tampah terbuat dari bambu untuk menggelar dagangan. Dia pun duduk bersandarkan tembok milik pedagang yang berada di los pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia kemudian menceritakan setiap hari berjualan ketupat sekitar 10-15 ikat. Satu ikat berisi 10 ketupat yang dijual dengan harga Rp 8.000/ikat. Langganannya adalah warga sekitar Kotagede dan para pedagang makanan atau warung makan kupat tahu, gado-gado atau lotek. Para penjual makanan biasanya membeli 2-3 ikat. Sedangkan kalau dimakan sendiri paling banyak satu ikat.
"Menawi bakul lotek utawi gado-gado biasanipun mendhet wanci enjang. (kalau penjual lotek atau gado-gado biasanya mengambil waktu pagi - red),," katanya.
Ketupat yang dibuat Mbah Hadi juga enak, awet dan tidak cepat basi. Sampai sore hari tanpa dipanasi lagi, ketupat buatannya tidak basi karena berasnya tidak terlalu lembek. Namun kalau terlalu kering atau agak keras, ketupat juga terlalu enak.
Setiap hari dia berjualan mulai pukul 07.00 hingga pukul 12.00 WIB. Setelah itu pulang ke rumah dan menyiapkan membuat ketupat untuk dijual keesokan harinya. Saat membuat ketupat dia juga dibantu oleh anggota keluarga yang lain. Meski anak-anak dan cucunya sudah mentas semua, dia mengaku tidak ingin berhenti bekerja atau hanya berdiam diri di rumah. Dia lebih senang tetap berjualan di pasar. Baginya berdagang mulai berdagang sayuran dan lain-lain sudah dilakukan sejak lama, puluhan tahun.
Mbah Hadi berangkat dari rumahnya di daerah Ngipik, Banguntapan atau sekitar 1,5 kilometer dari Pasar Kotagede diantar salah satu cucunya. Namun kadang-kadang naik becak. Dulu sebelum ada ringroad timur di sebelah timur Kotagede, dia cukup berjalan kaki. Namun karena jalan sudah ramai dengan kendaraan, Mbah Hadi mengaku tidak berani.
"Celak, namun sak meniko rame sanget dalanipun. (Sebenarnya dekat tapi sekarang jalannya ramai sekali-red)," katanya.
Meski ada pedagang ketupat lainnya di Pasar Kotagede, dia pun tidak merasa tersaingi. Sebab semua pedagang juga sudah punya langganan sendiri-sendiri.
"Menawi mboten panjeng nggih mboten menapa-napa," (Kalau tidak laku, tidak apa-apa-red)," pungkas dia.
Kisah di atas adalah kepingan tentang orang-orang yang mengalami keterbatasan dari segi usia, namun semangatnya tak pernah surut. Anda punya kisah lain yang serupa dengan mereka? Silakan kirim foto dan ceritanya ke redaksi@detik.com atau pasangmata.com. Jangan lupa sertakan kontak Anda. (bgs/mad)











































