"Meskipun belum nampak secara jelas, akan tetapi harus diakui bahwa saat ini telah mulai ada gejala dari menurunnya semangat dan rasa kebangsaan atau nasionalisme di kalangan generasi muda yang ditunjukkan dari semakin berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan nilai nilai budaya bangsanya sendiri," kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar.
Hal itu dia katakan dalam acara Mukernas III Gerakan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Nasional, di UIN Raden Fatah Palembang seperti dikutip dari keterangan persnya, Selasa (3/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebab, generasi muda adalah komponen bangsa yang paling strategis posisinya dalam memainkan proses transformasi karakter dan tata nilai di tengah-tengah derasnya liberalisasi informasi di era globalisasi," jelasnya
Oleh karena itu, seyogyanya ada upaya antisipasi untuk menyikapi kondisi tersebut. Pasalnya, jika generasi terus hanyut dalam arus kebebasan informasi tanpa memikirkan revitalisasi nilai-nilai kebangsaan, bukan tidak mungkin di masa depan bangsa ini akan menjadi bangsa yang berpendirian lemah yang pada akhirnya akan mudah dikendalikan oleh bangsa lain.
"Setidaknya, ada tiga peran penting yang dimiliki generasi muda dalam pembangunan karakter bangsa, diantaranya sebagai pembangun-kembali
karakter bangsa, pemberdaya karakter dan sebagai perekayasa karakter," beber Marwan.
Lebih jauh, Marwan menguraikan, generasi muda harus mampu membangun kembali karakter bangsa di tengah derasnya arus globalisasi, terutama
ketika erosi karakter positif bangsa dihadapkan pada gejala penguatan mentalitas negatif, seperti malas, koruptif dan sebagainya.
"Disamping itu, generasi muda saat ini juga dituntut untuk mengambil peran sebagai pemberdaya karakter dengan menjadi role model dari
pengembangan karakter bangsa yang positif. Tetapi, pengembangan karakter positif bangsa juga menuntut adanya modifikasi dan rekayasa
yang tepat disesuaikan dengan perkembangan jaman," urainya.
Ia menyadari, tugas tersebut tidaklah mungkin dilakukan oleh generasi muda sebegaian komponen anak bangsa. Sebab, pengembangan dana pembinaan karakter bangsa adalah menyangkut reformasi kolektif dari segenap komponen bangsa itu sendiri.
"Karena sifatnya yang kolektif, maka tentunya hal tersebut tidak mungkin menjadi tugas atau kewajiban dari komponan. Terutama pemerintah, harus sanggup memberikan fasilitasi yang paling ideal dalam mengakselerasi proses pemahaman kolektif," tutup Marwan.
(mpr/mpr)










































