Dari pantauan detikcom, puluhan stand penjual batu akik memenuhi disesaki oleh orang-orang yang menghabiskan akhir pekan dengan berburu batu akik atau hanya sekedar melihat-lihat.
Ketua panitia acara, Wahyu Ari Candra mengatakan ada lebih dari 70 stand yang disiapkan untuk penggemar batu akik. Pengisi stand ternyata tidak hanya datang dari pulau Jawa, bahkan menurutnya ada yang dari Aceh hingga Papua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyu menambahkan, selain untuk urusan bisnis, pameran tersebut menekankan tentang pengenalan batu akik khas dari masing-masing daerah. Sehingga pecinta batu mulia di Semarang dan sekitarnya bisa berkembang.
"Dengan mengumpulkan komunitas pecinta batu seluruh Indonesia, penghoby batu di sini bisa lebih bergairah atmosfir bisnisnya. Diharapkan juga mal-mal menyediakan pejualan batu akik juga," terang ketua Komunitas Semarang Gems Lover itu.
Animo masyarakat sangat tinggi di pameran yang pertama kali digelar di Semarang itu. Keramaian bahkan tidak hanya di hall, namun di tempat parkir karena ada beberapa orang yang menggelar lelang kecil-kecilan.
"Tiap daerah berlomba-lomba menampilkan temuan batu di daerah masing-masing. Misalnya batu Solar dari Aceh, terus daru Papua ada Bacan, Bengkulu ada Batu Raja, kita ada batu Klawing," pungkas Wahyu.
Tidak hanya pameran dan dagang, dalam acara yang digelar hingga hari Minggu (1/3) besok itu juga diadakan lomba yang diikuti sekitar 600 peserta. Peserta dikategorikan dalam kelas batu gambar, kelas bebas dari Pancawana dan batu antik unik, dan satu kelas khusus yaitu Nogosuwi.
"Pemenang dapat tropi dan tentu harga batunya akan melonjak tinggi," ujarnya.
Harga batu mulia yang dijual dalam pameran tersebut sangat beragam mulai dari yang Rp 30 ribu hingga Rp 3,4 miliar. Menurut Wahyu, warga Semarang mayoritas tertarik dengan batu gambar, atau batu yang memiliki motif menyerupai benda atau pemandangan.
(alg/kha)











































