Rabies Jadi KLB di Lembata-NTT

Rabies Jadi KLB di Lembata-NTT

- detikNews
Kamis, 03 Feb 2005 09:53 WIB
Kupang - Selain demam berdarah dan diare, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga dilanda rabies. Pemerintah Kabupaten Lembata di NTT bahkan menetapkan kasus rabies sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal itu terjadi setelah jumlah korban gigitan anjing rabies bertambah menjadi 44 orang dalam sepekan terakhir. Korban terakhir yakni bocah berusia tujuh tahun bernama Ferdinandus Lolong Langari, warga Kelurahan Lewoleba Timur dan dua warga Loang, Kecamatan Nagawutung. Untuk mengurangi jumlah korban, pemerintah setempat sejak Minggu(30/1) mulai melakukan eliminasi terhadap ribuan anjing yang diduga telah mengidap penyakit anjing gila. Eliminasi tahap pertama yang dilakukan di desa Nangawutung, aparat kepolisian dibantu masyarakat berhasil menembak mati 212 ekor anjing. Direncanakan, seluruh anjing di desa-desa yang telah terserang akan dieliminasi dalam pekan ini.Kepala Sub Dinas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh. Maria Geong, MSi yang dihubungi melalui saluran telepon di Lembata, Kamis (3/2/2005) mengatakan, seluruh korban telah mendapat suntikan vaksin anti rabies dan serum anti rabies dari tim medis.Selain melakukan eliminasi, menurut Maria Geong, pihaknya akan melakukan vaksinasi terhadap puluhan ribu ekor anjing. "Vaksinasiini dimaksudkan untuk mencegah bertambahnya korban gigitan," katanya.Dari 44 kasus gigitan, satu korban di antaranya bernama Elisabeth Wuhan (40) warga desa Wuakerong, meninggal dunia. Sisanya berhasil diselamatkan setelah mendapat suntikan vaksin anti rabies dan serum anti rabies dari tim medis.Serangan anjing rabies mulai mengganas Lembata akhir 2004 lalu.Setiap gigitan anjing rabies, mengandung lyssa virus yang sangat mematikan karena masa inkubasi pada tubuh korban hanya dua minggu sampai enam bulan. Lyssa virus hanya menyerang sistem syaraf pusat atau syaraf otak dan akan mati seiring dengan kematian induk semangnya.Secara klinis, korban gigitan rabies akan menunjukkan beberapa perubahan perilaku diantaranya depresi, gejala sakit syaraf seperti pika, munsul sifat kanibal, beringas, menggigit tanpa provokasi, air liur menggantung atau lumpuh. "Apabila dalam kurun waktu tersebut korban tidak mendapat suntikan vaksin anti rabies dan serum anti rabies maka kemungkinan besar korban akan tewas," lanjut Maria Geong.Diduga, puluhan anjing yang mengidap virus mematikan ini, tertular rabies karena adanya migrasi sejumlah anjing rabies dari Kabupaten Flores Timur melalui pelabuhan tradisional akibat kurangnya sarana dan prasarana serta karantina hewan untuk melakukan pengawasan.Dalam delapan tahun terakhir (1987 2005) jumlah korban tewas akibat gigitan anjing rabies di Kabupaten Manggarai, Sikka, Ngada, Ende, Flores Timur, Manggarai Barat dan Lembata mencapai 128 orang. Sedangkan total gigitan mencapai 8.725 kasus. Korban tewas terbanyak berasal dari Kabupaten Ngada, yakni 60 orang disusul Flores Timur 28 orang, Sikka 17 orang, Manggarai 14 orang, Ende 7 orang dan Lembata 1 orang. (nrl/)



Berita Terkait