Mahathir Nilai Bencana Tsunami di Aceh Terbesar
Kamis, 03 Feb 2005 02:07 WIB
Jakarta - Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Muhammad menilai bencana tsunami di Aceh merupakan yang terbesar. Hal itu dapat dilihat dari tingkat kerusakan yang ditimbulkannya. Dalam pertemuan di ruang kerja Wagub NAD Azwar Abubakar di Banda Aceh, Rabu (2/2/2005), Mahathir mengingatkan hal terpenting yang harus mendapat perhatian adalah pendistribusian bantuan. Selain itu, ia menanyakan langkah-langkah yang dilakukan dalam menangani bencana tsunami. Ketika ia menanyakan penanganan anak yatim korban tsunami, Azwar mengatakan sedang dilakukan pendataan. Pemerintah bertanggung jawab atas kehidupan dan pendidikan mulai dasar hingga perguruan tinggi. Pertanyaan lainnya yang diajukan Mahathir adalah masalah kerusakan sertifikat tanah akibat tsunami. Menurut wagub, pemilik sertifikat akan segera mendapat haknya kembali, demikian juga ahli warisnya. Pada kesempatan itu, wagub menjelaskan gempa dan tsunami menyebabkan kerusakan di sepanjang Pantai Barat dan Meulaboh ke utara sepanjang 540 km. 1000 dari 7000 karyawan Provinsi NAD meninggal dunia. Selain itu, 82 dosen, 2 orang profesor dan 4 orang doktor juga menjadi korban tsunami. Siaran Pers Media Center Lembaga Informasi Nasional yang diterima detikcom, Rabu (2/2/2005) malam, menyebutkan saat ini penanganan bancana telah memasuki proses rehabilitasi. Kegiatan yang dilakukan salah satunya adalah relokasi. Kedatangan Mahathir di Banda Aceh disambut Menko Kesra Ketua Satkorlak Penanganan Bencana Alwi Shihab dan Wagub Azwar Abubakar. Dari Lanud Sultan Iskandar Muda, Mahathir bersama istri dan rombongan menuju kantor gubernur.
(rif/)











































