Jajakan Taman Laut Terindah

Wisata Maluku Pascakonflik (3)

Jajakan Taman Laut Terindah

- detikNews
Rabu, 02 Feb 2005 16:33 WIB
Jakarta - Sebelum konflik antawarga yang meletus 1998, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Maluku sebanyak 14.500 orang. Namun seiring dengan naiknya suhu konflik, setahun kemudian jumlah turis asing turun drastis menjadi 600 orang."Memang konflik telah membuat seluruh tatanan kehidupan orang Maluku hancur.Begitupun dengan kondisi pariwisata Maluku. Benar-benar terpuruk," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Ape Watratan kepada detikcom.Pemberlakuan status darurat sipil pada akhir 1999 hingga 2000 telah membatasi kunjungan wisatawan asing. "Tahun 2001 sama sekali tidak ada wisatawan yang masuk Maluku," ujar Ape Watratan.Kini, setelah situasi keamanan kian hari kian membaik, Maluku kembali mengundang kedatangan para wisatawan asing. Pada 2002, 500 turis asing datang ke Maluku, lalu tahun berikutnya menjadi 600 orang, dan pada 2004 mencapai 1.248 orang.Guna merecovery kembali kondisi pariwisata Maluku, saat ini Dinas Pariwisata Provinsi Maluku sedang melakukan program dan langkah-langkah strategis untuk mengembalikan citra Maluku sebagais alah satu kawasan wisata andalan Indonesia. "Oktober 2004 lalu, Menteri Pariwisata sempat ke Pantai Hunimua Indah sambil membawa beberap artis ibukota asal Maluku, seperti Ruth Sahanya, Yopie Latul, Andre Hehanussa, Glen Fredly, Wanda Hamida, dan lainnya. Hal ini untuk menggeliatkan kembali kondisi wisata Maluku," kata Watratan. Sebulan sebelumya, Gubernur Maluku, Alberth Karel Ralahalu melakukan kunjungah ke Belanda dan Austria untuk mempromosikan pariwisata Maluku ke dua negara itu. Hal itu sempat juga dilakukan Walikota Ambon di Singapura. Hasilnya lumayan juga. Pada 19 Februari nanti akan datang ke maluku 250 turis asal Eropa. Para turis yang dibawa oleh perusahaan jasa travel Ant Sico ini tiba dengan kapal pesiar Colombus. Mereka bertolak dari Sidney menuju Ambon dan selanjutnya ke Bitung. Mereka hendak menikmati langsung keindahan pantai dan laut Maluku. Menurut Sekda Provinsi Maluku, Said Assagaf, para turis itu akan dijemput di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon dan selanjutnya akan dibagi dua kelompok. Satu kelompok akan menuju Pantai Natsefa, Desa Waai untuk menengok kolam ikan Morea, dan pantai Hunimua Indah; satunya lagi akan menuju Pantai Namalatu Latuhalat. "Mereka punya waktu hanya lima jam. Makanya dibagi dua kelompok," Assagaf kepada detikcom. Selain itu, berbagai cendramata sudah disiapkan pemerintah daerah untuk dibagikan kepada para turis Eropa tersebut. "Mereka juga akan disuguhi dengan makanan khas Maluku dan tarian serta atraksi budaya Maluku." Ditanya soal infrastruktur pariwisata Maluku, Kepala Dinas Pariwisata Ape Watratan menyatakan, pihaknya sedang melakukan pembenahan dan pemulihan sejumlah lokasi wisata. "Dari semua wisata pantai dan laut, kami kelola dua lokasi, yaitu kawasan Namaltu di Latuhalat Kecamatan Nusaniwe dan Pantai Hunimua Indah Desa Liang Kecamatan Salahutu."Masalah air dan fasilitias listrik di Pantai Hanimua, akan dibereskan tahun 2005 ini. "Kami sudah identifikasi kendala-kendala tersebut. Sudah ada dalam rencana. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa dibenahi," tegas Watratan. Katanya, masalah air yang membelit Pantai Hanimua ini karena hampir semua pipa air dipotong masyarakat saat konflik. Untuk menjamin keamanan kawasan wisata, Dinas Pariwisata melakukan koordinasi dengan jajaran TNI dan Polri guna mengembalikan kembali citra Maluku sebagai daerah Kawasan Wisata Bahari di Indonesia. "Selain sebagai daerah tujuan wisata terutama pantai dan laut, Maluku juga dikenal sebagai daerah wisata budaya dan sejarah," tutur Watratan.Sayangnya, beberap obyek wisata budaya dan sejarah kini hampir terkikis zaman karena ulah masyarakat. Bahkan ada obyek wisata yang hancur tak tersisa. "Bayangkan, obyek wisata gereja tua di Desa Kaitetu Kecamatan Leihitu, dan gereja tua di Pulau Banda yang memiliki nilai histrois tersendiri, hancur tak berbekas," katanya.Selain itu, obyek wisata benteng peninggalan penjajah Belanda dan Portugis juga tidak terawat. Sebagaimana benteng Amsterdam, Roteerdam dan benteng Kapahaha di Kecamatan Leihitu. "Sejak konflik hingga kini, tidak ada lagi yang merawatnya," kata Ahmad Nukuhaly, salah seorang warga Desa Kaitetu.Kerusakan dan tidak terawatnya seluruh obyek wisata budaya dan sejarah ini, membuat dina Pariwisata Maluku bekerja ekstra untuk memulihkan kembali seperti sedia kala. "Yang pasti kami akan melakukan program pemulihan dan perbaikan. Semoga usulan anggaran APBD untuk rutin dan pembangunan sebesar Rp 4 miliar itu dapat terealisir," kata Watraman.Bagaimana dengan promosi wisata bahari Maluku? Watraman mengaku pihaknya tengah melakukan langkah strategis yakni membuat film bahari yang khusus menyoroti taman laut yang ada di Maluku. Diharapkan hasil film ini akan menjadi daya tarik wisatawan asing ke Maluku. "Saat pemutaran film itu, ternyata hasil yang dapat kita lihat, keindahan taman laut di Maluku lebih indah dari Bunaken di Manado. Ini hasil perbandingan kami setelah kami melihat keduanya," ungkap Watratan. Beberapa kawasan yang saat ini dijadikan sebagai obyek wisata taman laut yakni, taman laut Amahusu di Kecamatan Nusaniwe, taman laut Tanjung Setan di Desa Morella dan taman laut dan Desa Seith Kecaman Leihitu. (diks/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads