"Transportasi yang membuat kita jalan di tempat," kata Willem saat berbincang dengan wartawan di Timika, Papua, Senin (16/2/2015).
Keterisolasian Kabupaten Puncak yang terdiri dari 8 distrik memang begitu terasa saat detikcom berkunjung mulai 13-16 Februari lalu. Sembako dan bahan-bahan bangunan dipasok ke daerah ini menggunakan pesawat perintis dari Bandara Mozes Kilangin, Timika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kabupaten Puncak, di distrik Ilaga, minyak goreng kemasan 1 liter dibanderol Rp 50 ribu. Air mineral kemasan yang kecil Rp 15 ribu, ukuran sedang Rp 25 ribu, dan yang besar Rp 60 ribu.
Sementara ayam 1 ekor Rp 90 ribu, telur Rp 5 ribu per butir, ikan lema Rp 70 ribu per kilogram. Gula pasir Rp 30 ribu per 6 ons, dan beras Bulog Rp 500 ribu per 15 kilogram, serta mie instant Rp 5.000 per bungkus. Harga cabai di Ilaga tergolong sangat tinggi, yakni Rp 150 ribu per kilogram.
Tak hanya sembako, BBM di Kabupaten Puncak yang dihuni lebih dari 167.000 jiwa ini pun sangat tinggi. BBM jenis premium per liter Rp 50 ribu. Harga solar, dan minyak tanah pun sama, Rp 50 ribu per liter. Begitu pula dengan harga-harga bahan bangunan yang selangit.
"Saya yang masih punya uang saja merasa, apalagi masyarakat yang tidak punya. Ini kan masalah besar," ujar Willem. Raut kesedihan tergambar jelas di wajahnya saat mengatakan hal tersebut.
Perlahan namun pasti, kini Willem berusaha mengeluarkan Kabupaten Puncak dari keterisolasian. Saat ini dua ruas jalan yakni Sinak-Ilaga-Mulia dan Illaga-Beoga dan Sugapa tengah dibangun. Proyek itu diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadi Muljono Sabtu (14/2/2015) lalu.
Pembangunan di Kabupaten Puncak bukan perkara mudah. Mendatangkan alat-alat berat saja, biayanya mencapai puluhan miliar rupiah. Willem bercerita pernah membeli beberapa puluh sak semen diantar dengan pesawat perintis seharga satu mobil Avanza.
"kita beli 1 alat berat untuk membangun jalan saja itu Rp 1,5 miliar. Biaya angkutnya sampai 5 miliar. Itu hanya biaya angkut saja. Bayangkan itu. Belum berapa (alat berat-red) bisa puluhan miliar," ucap Willem.
Kedatangan Menteri Basuki dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said ke Papua diapresiasi oleh Willem. Karena selain meresmikan pembangunan jalan, Basuki juga meresmikan proyek pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di Ilaga. Basuki juga akan menggolkan proyek jalan dari Ilaga ke Grasberg. Freeport juga telah mendukung rencana itu. Basuki berjanji terus mempercepat pembangunan jalur Trans Papua untuk menekan harga-harga kebutuhan pokok dan bahan bangunan di Papua.
"Itu bagus sekali. Dengan dibukanya nanti jalan dari Ilaga ke Grasberg, kebutuhan pokok, bahan bangunan, dan BBM bisa dipasok lewat darat. Jadi harga-harga bisa turun, tidak tinggi seperti sekarang," jelas Willem senang.
Willem melihat kedatangan Menteri Basuki dan Sudirman sebagai bentuk konkrit perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap Bumi Cendrawasih, khususnya Kabupaten Puncak.
Di luar itu, rendahnya pendidikan masyarakat di Kabupaten Puncak juga jadi masalah besar. Masih banyak warga usia remaja yang belum bisa membaca dan menulis. Makanya, setiap tahun, Willem mendatangkan guru-guru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk meningkatkan pendidikan.
"Saya selalu memetakan masalah. Soal pendidikan, saya mendatangkan guru penggerak daerah terpencil. Kami datangkan dari UGM. Tahun ini ada 60 guru dari UGM yang akan datang dari UGM untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan di sini," ucap Willem yang dilantik Gubernur Papua Lukas Enembe pada tanggal 25 April 2013.
Di Kabupaten Puncak, di distrik Ilaga, Beoga, dan Sinak, Willem membuat sekolah PAUD, SD, SMP, SMA, dengan pola berasrama. "Dengan begitu, mereka jadi lebih aktif belajar. Guru-guru juga tidak kesulitan mengajar," imbuhnya.
Sektor kesehatan pun jadi perhatian Willem. Di Kabupaten Puncak yang terbentuk pada tahun 2008 ini, kesadaran masyarakat akan kesehatan masih rendah. Tinggal di honai (rumah adat) beramai-ramai, bahkan dengan hewan ternak, membuat kesehatan masyarakat terganggu.
"Makanya saya terus berusaha memperbayak puskesmas di Kabupaten Puncak ini, dan meningkatkan SDM puskesmas. Perencanaan kami 15 tahun mendatang kami bangun rumah sakit tipe B dan C. Saat ini lebih bagus untuk meningkatkan puskesmas karena lebih bermanfaat. Jadi pelayanannya lebih maksimal," jelas Willem.
Willem menambahkan, butuh waktu untuk membuat Kabupaten Puncak maju. Meski banyak tantangan di berbagai sektor, ia mengaku tak akan menyerah, khususnya segera mengeluarkan daerahnya dari keterisolasian. Ia meminta Jokowi terus memberikan perhatian.
"Menjadi bupati, saya tidak pernah berifikir soal tekanan-tekanan, tapi saya menjalankan amanah saja. Tidak usah berfikir ada badai di depan. Ketakutan itu membuat masalah. Makanya saya menikmati saja," ucap Willem.
"Butuh waktu memang. Tapi itu sudah komitmen saya. Pelan-pelan saya akan coba terus, berusaha mengeluarkan Kabupaten Puncak dari keterisolasian, meningkatkan pelayanan publik, kesehatan, pendidikan, bagaimana anak-anak harus terus sekolah," sambung Willem.
(bar/jor)










































