Menengok Kerkoff Peucut, Kuburan Serdadu Belanda Bukti Dahsyatnya Perang Aceh

- detikNews
Senin, 16 Feb 2015 16:59 WIB
(Foto: Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh - Nisan-nisan dengan beragam ukuran berdiri rapi di lahan seluas tiga kali lapangan bola. Warnanya putih. Ada berbentuk salib, ada juga mirip tugu. Sementara di dinding pintu masuk komplek, tertera nama jenazah lengkap dengan lokasi dan tahun mereka tewas. Itulah komplek Kerkoff Peucut, tempat 2.200 lebih serdadu Belanda dikuburkan.

Kerkoff Peucut terletak di belakang Museum Tsunami, Banda Aceh. Memasuki kawasan komplek, pengunjung disapa dengan sebuah tulisan yang ditulis dalam bahasa Belanda, Jawa dan Arab Melayu. Bunyinya “Untuk sahabat kita yang gugur di medan perang”. Ribuan serdadu Belanda dengan berbagai pangkat dikuburkan di sana.

Nama Kerkoff secara harfiah bermakna halaman gereja atau kuburan. Sementara Peutjut merupakan nama panggilan putra mahkota Sultan Iskandar Muda yang meninggal setelah dihukum rajam oleh ayahnya karena melanggar hukum kerajaan kala itu. Namanya Meurah Pupok. Ia dimakamkan di sana sekitar 300 tahun sebelum Belanda membuat kuburan untuk serdadu mereka.

Dalam komplek Kerkoff, bukan hanya serdadu dari Belanda yang dikuburkan di sana. Tapi juga terdapat sejumlah penduduk pribumi yang diyakini direkrut sebagai tentara Marsose dan pasukan KNIL untuk dikirim melawan Aceh. Mereka di antaranya berasal dari Ambon, Manado dan Jawa. Hal itu terlihat jelas dari sejumlah nama yang tertera di dinding komplek Kerkoff.

Seorang sejarawan Aceh, Rusdi Sufi, mengatakan, Belanda mulai menyerang Aceh pada 1873-1904 setelah penduduk tanah Rencong menolak bergabung dengan Hindia Belanda (kini Indonesia). Saat itu, hampir seluruh wilayah di Nusantara sudah dikuasai oleh Belanda. Aceh yang merupakan daerah berdaulat menolak ajakan Belanda.

“Sehingga mereka kemudian menyatakan perang dengan Aceh,” kata Rusdi saat ditemui di komplek Kerkoff Peucut, Banda Aceh, (16/2/2015).

Pada masa pendudukan Hindia Belanda, Masjid Raya Baiturrahman dikuasai oleh pasukan Belanda. Mereka sempat membakar masjid tersebut meski kemudian dibangun kembali. Pada periode pertama perang tersebut (1873-1874), masyarakat Aceh berhasil menahan serangan Belanda.

Pada 14 April 1873, Mayor Jenderal JLH Pel. Kohler yang merupakan pemimpin pasukan Belanda tewas ditembak pejuang Aceh dalam pertempuran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Selain Kohler, juga terdapat jenderal lain yang dikuburkan di sini.

Jenazah Kohler selanjutnya diboyong ke Tanah Abang, Jakarta untuk dikuburkan di sana. Saat pembongkaran kuburan di wilayah Tanah Abang pada 1978 dilakukan untuk membangun bangunan, Pemerintah Belanda meminta izin Pemerintah Aceh agar Kohler dapat dikuburkan di Kerkoff. Saat itu, Pemerintah Aceh mengizinkan pemimpin pasukan Belanda itu dikuburkan di Tanah Rencong.

“Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh menerima Kohler dimakamkan di Kerkoff,” jelas Rusdi.

Selain dikuburkan di Kerkoff, di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh juga dibangun sebuah tugu sebagai penanda tempat Kohler tewas ditembak. Tugu tersebut dibangun oleh Pemerintah Aceh di bawah pohon kelumpang pada masa gubernur Ibrahim Hasan.

Menurut Rusdi, jenazah serdadu Belanda yang kuburkan di sana berasal dari seluruh daerah di Aceh. Mereka yang tewas dalam perang, dievakuasi ke Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Tentara Belanda kemudian membuat kuburan untuk serdadu mereka di atas lahan kosong milik orang Yahudi.

Selama bertahun-tahun setelah Belanda keluar dari Aceh, Kerkoff tak ada yang mengurus. Suasana kuburan terlihat kotor karena tak ada yang merawat. Baru pada 1976 datang JHJ Brendgen, seorang kolonel Marsose untuk melihat langsung kondisi makam militer tersebut. Melihat kondisi yang memprihatinkan, Brendgen, kemudian berinisiatif untuk membuat sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Dana Peutjut (Stichting Peutjut – Fonds).

Saban tahun, yayasan ini menyalurkan dana untuk perawatan kuburan tersebut. Bahkan kini, orang-orang yayasan datang langsung ke Tanah Rencong untuk menyalurkan sendiri dana yang berhasil dikumpulkan.

“Mereka datang ke sini untuk melihat apa yang dapat dibuat seperti pengecatan dan lainnya,” ungkap Rusdi.

Saat tsunami meluluhlantakkan serambi Mekkah pada 26 Desember 2004 silam, areal komplek makam ini rusak parah. 50 Palang salib sebagai tanda kuburan hilang dibawa gelombang.



 (Foto: Agus Setyadi/detikcom)

Beberapa tahun setelahnya, pihak yayasan kembali mengucurkan dana miliaran rupiah untuk merehabilitasi komplek Kerkoff.

“Sekitar Rp 2 miliar dana yang disalurkan saat tsunami untuk merawat Kerkoff,” kata Rusdi.

Kerkoff Peucut bukan saja sebagai bukti kepahlawanan masyarakat Aceh melawan penjajah. Tapi juga sebagai bukti nyata keadilan Sultan Iskandar Muda dalam menjunjung tinggi hukum di masa pemerintahannya. Kini, komplek Kerkoff Peucut sudah menjadi salah satu tempat wisata di Kota Banda Aceh.

Dana Yayasan untuk Rawat Makam Berkurang

Yayasan Dana Peutjut yang dirikan sejak 29 Januari 1976 atas inisiatif JHJ Brendgen, seorang kolonel Marsose aktif menyalurkan dana saban tahun untuk perawatan makam Kerkoff. Awalnya mereka menyalurnya melalui Pemerintah Kota Banda Aceh namun sekarang dibawa langsung oleh warga Belanda utusan yayasan tersebut.

"Dana yang disalurkan merupakan milik yayasan bukan dari Pemerintah Belanda. Tapi sekarang sudah mulai berkurang karena banyak donatur yang sudah meninggal," kata sejarawan Aceh yang juga pengelola Kerkoff Peucut, Rusdi Sufi, saat ditemui di komplek Kerkoff, Senin (16/2/2015).



Beredar informasi di kalangan masyarakat, Yayasan Dana Peutjut yang berpusat di Belanda mulai menghentikan dana untuk pengelolaan komplek kuburan. Tapi hal tersebut dibantah oleh Rusdi. Menurutnya, pihak yayasan pernah bertemu dengan Pemerintah Aceh untuk membahas tentang pengelolaan kerkoff karena mereka mulai kekurangan dana.

"Sampai sekarang mereka masih menyalurkan dana. Cuma dananya sudah mulai berkurang karena generasi muda Belanda sudah kurang peduli. Mereka pernah bertemu Pemerintah Aceh untuk membahas masalah ini dan Pemerintah Aceh bersedia untuk mengelolanya," jelasnya.

Dana yang disalurkan setiap tahunnya bervariasi. Setelah tsunami meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004 silam, yayasan ini menyalurkan dana lebih kurang Rp 2 miliar untuk memperbaiki komplek kuburan yang rusak parah. Setelah itu, mereka juga menyalurkan dana untuk mengecat areal komplek maupun keperluan lainnya.

Saat utusan yayasan datang ke Aceh pada 2014 silam, mereka mengganggarkan dana sebesar 13.400 Euro untuk Kerkoff. Selain dari yayasan, pemerintah Kota Banda Aceh juga menyalurkan dana untuk membersihkan Kerkoff.

"Sudah miliaran rupiah yayasan menyalurkan dana untuk perawatan Kerkoff ini. Awal-awalnya mereka menyalurkan melalui pemerintah Kota tapi sekarang mereka datang sendiri ke sini setiap tahun," ungkap Rusdi.

(nwk/nwk)