Pasca Tsunami, Sewa Rumah di Banda Aceh Melonjak
Rabu, 02 Feb 2005 07:03 WIB
Banda Aceh - Harga sewa dan beli rumah di Banda Aceh dan sekitarnya melonjak tajam pasca tsunami. Pasalnya para pendatang, baik relawan maupun jurnalis dalam dan luar negeri, berani membayar mahal untuk sebuah rumah tinggal sementara. Harga sewa rumah bisa lebih daripada sewa kamar hotel bintang empat selama sebulan di Jakarta.Sejumlah rumah, seperti di kawasan Lam Lagang Neuseu, Lambaro, Jalan Teuku Umar dan bisa dikatakan hampir seluruh daerah yang relatif aman dari tsunami rata-rata sudah ditempati para relawan yang bekerja untuk waktu lebih dari satu bulan di Banda Aceh.Banyaknya peminat, justru mengakibatkan harga naik dengan tajam. Harga sewa rumah permanen dua kamar yang rata-rata sekitar Rp 2 juta pertahun, saat ini melonjak menjadi Rp 8 juta pertahun.“Bahkan ada yang menyewakan rumah yang besar disewa Rp 35 juta perbulan, bukan lagi pertahun. Sama harganya dengan sewa kamar hoel di Jakarta. Ada juga yang disewakan Rp 400 juta pertahun, di kawasan Kampung Ateuk, Baiturrahman, Banda Aceh,” kata Herman, seorang warga di Banda Aceh, Selasa (1/2/2005).Kondisi ini, pada satu sisi memang menguntungkan sebagian warga Banda Aceh. Namun celakanya, momen ini dimanfaatkan secara berlebihan. Dalam beberapa kasus, ada penyewa lama yang ingin menyambung sewa rumah dengan harga lama, justru dinaikkan sepuluh kali lipat.“Ada yang semula sudah disetujui menyewa Rp 6 juta, sekitar satu minggu setelah tsunami, tiba-tiba pemilik rumah menaikkan harga menjadi Rp 60 juta karena ada orang asing yang bersedia membayar lebih mahal. Jika tidak punya uang, ya harus keluar. Bayangin bagaimana mahalnya harga sewa rumah di Banda Aceh ini,” tukas Nani Afrida, seorang wanita berusia 28 tahun di Banda Aceh.Nani justru punya pengalaman seperti ini, walau tidak terlalu pahit dibanding beberapa penyewa rumah lainnya. Nani yang semula bermaksud menyambung sewa rumahnya di kawasan Lam Lagang Neusu, Banda Aceh, tiba-tiba dinaikkan menjadi Rp 6 juta.“Padahal sebelumnya tidak semahal itu. Yang lebih parah lagi, pemilik rumah minta uangnya pada hari itu juga, saya terpaksa mencari uang kesana-kemari, sebab kalau tidak, kita tidak tahu mau tinggal kemana. Rp 6 juta itu, relatif murah sekarang,” kata Nani.Harga sewa rumah yang mahal mengakibatkan banyak penduduk asli Aceh yang tidak memiliki uang sebanyak para relawan asing, akhirnya terpaksa tinggal di pengungsian. Beberapa yang lain, sedang berpikir bagaimana cara mencari uang yang lebih banyak.Uniknya dikabarkan, sebagian warga Banda Aceh ada yang rela tinggal di pengungsian sementara rumahnya yang selamat dari tsunami, disewakan harga puluhan juta. Beberapa lainnya, tinggal di luar Aceh, hingga masa penyewaan selesai. Jadi, Anda yang ingin menyewa rumah di Banda Aceh, harus tabah sejak awal.
(ast/)











































