Wawancara (Alm) PB XII Tentang Suksesi Dirilis untuk Umum

Wawancara (Alm) PB XII Tentang Suksesi Dirilis untuk Umum

- detikNews
Selasa, 01 Feb 2005 17:33 WIB
Solo - Wawancara Paku Buwono (PB) XII beberapa waktu sebelum meninggal dunia, dirilis untuk umum. Dalam rekaman itu PB XII menyatakan tidak bisa menunjuk penggantinya secara sepihak. Dia juga mengisyaratkan ancaman terjadinya keruntuhan Kraton Surakarta dan tidak bisa berharap apa pun dari anak-anaknya.Wawancara itu dilakukan oleh KRT Wironegoro, seorang penulis yang sedang berencana membuat biografi PB XII. Wawancara dilakukan di dalam kompleks kraton pada bulan Juni dan Juli 2003. Dalam wawancara santai itu, berbagai hal diungkapkan PB XII, termasuk mengenai suksesi kraton dan apa yang harus dilakukan ahli waris kraton sepeninggalnya.Rekaman itu lalu diedit dan disebarkan oleh GPH Suryo Wicaksono, salah satu dari 35 anak PB XII. Gusti Nenok, demikian dia biasa dipanggil, mengaku berinisiatif menyebarkan rekaman itu dalam bentuk VCD agar seluruh masyarakat, terutama kerabat dan putra-putri PB XII, mengetahui apa wasiat dan keinginan PB XII mengenai masa depan kraton."Saya membuat 200 keping kopi dan saya sebarkan cuma-cuma. Selanjutnya, yang menginginkan silakan membuat kopiannya sendiri. Semoga semua sadar setelah mendengar pesan Almarhum Sinuhun tersebut. Langkah itu saya tempuh terkait perseteruan putra-putri almarhum menghadapi suksesi yang memunculkan dua raja," kata dia kepada wartawan di Solo, Selasa (1/2/2005).Dalam wawancara itu PB XII menyebutkan bahwa dia tidak bisa menunjuk salah satu putranya menjadi pengganti karena untuk langkah itu seorang raja tidak bisa bertindak sendirian dan harus menunggu petunjuk Tuhan. PB XII juga mengingatkan adanya ancaman keruntuhan Kraton Surakarta jika para putra-putrinya selaku ahli waris tidak bisa hidup rukun."Dari rekaman wawancara ini dapat kita ketahui bahwa, Sinuhun tidak pernah sekalipun menunjuk salah satu putranya untuk menjadi raja pengganti. Dengan demikian saya berharap dua kubu berseteru itu bertemu menyelesaikan persoalan karena dari keduanya tidak ada bisa mengklaim paling berhak sebagai pengganti," papar dia."Memang betul Mas Behi putra tertua, tapi bukan putra dari permaisuri apalagi putra mahkota. Dalam wawancara itu secara tegas Sinuhun menyebutkan, putra mahkota dari permaisuri sekalipun belum dapat dipastikan bisa menjadi raja. Nah, kedua pihak (KGPH Tedjowulan maupun KGPH Hangabehi -red) ini keduanya cuma putra selir karena Sinuhun tidak memiliki permaisuri," lanjutnya.Nenok berharap, semua putra-putri PB XII dapat menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Diharapkannya, kubu Hangabehi yang mengaku mendapatkan surat wasiat segera melunak. Sebab selain keabsahannya masih diragukan, secara adat kraton sabda raja seperti dalam wawancara itu nilai hukumnya jauh lebih tinggi."Mas Tedjo juga harus legawa untuk membuka diri dan menghormati keberadaan Mas Behi sebagai seorang kakak. Arahan Sinuhun itu harus dilakukan karena saya yakin semua pihak tidak ingin melihat aset budaya peninggalan leluhur berupa kraton ini mengalami kehancuran karena terjadi konflik internal," papar dia. (nrl/)


Berita Terkait