JK Sebut Banyak Konflik di Daerah Karena Politik, Bukan Soal Agama

JK Sebut Banyak Konflik di Daerah Karena Politik, Bukan Soal Agama

- detikNews
Kamis, 12 Feb 2015 22:03 WIB
JK Sebut Banyak Konflik di Daerah Karena Politik, Bukan Soal Agama
Jakarta - Persoalan konflik di daerah khususnya Indonesia bagian timur seakan tak pernah selesai. JK menyebut persoalan konflik di Indonesia lebih banyak karena persoalan politik, bukan agama.

"‎Konflik yang ada di Indonesia sebut saja Maluku dan Poso pada dasarnya terjadi karena persoalan politik," kata Wapres Jusuf Kalla saat menjadi pembicara di acara Konfrensi Wilton Park di hotel Dharmawangsa, Jalan Dharmawangsa, Jaksel, Kamis (12/2/2015).

Konferensi ini membahas soal resolusi konflik Asia Tenggara dan dihadiri sekitar 60 peserta dari berbagai negara seperti Myanmar, Malaysia, Filipina, Vietnam, Laos dan tentu saja Indonesia. Dalam acara ini dibahas soal langkah strategis pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyelesaikan konflik di negaranya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut JK, jika dibandingkan Asia Barat, Afrika, konflik yang terjadi di Asia Tenggara lebih sedikit tetapi beragam. Ia mengatakan di Indonesia sebagian besar karena persoalan politik tetapi di Myanmar lebih pada aksi radikal.

"Di Indonesia saat era Presiden Soeharto, konflik tak banyak bermunculan karena ada sistem yang dibuat untuk daerah yang penduduknya beragam maka jika gubernurnya Islam, maka wakilnya beragama Nasrani atau sebaliknya. Namun sekarang, karena demokrasi maka bisa saja yang menang orang Islam yang berpasangan dengan orang Islam," ucapnya.

Menurutnya, saat ini dunia memiliki masalah beragam sebagai pemantik konflik. Salah satu persoalan besar di dunia yakni memerangi kelompok ISIS yang disebut JK 'borderless'.

‎Namun, persoalan konflik tersebut bisa diselesaikan dengan mengharmonisasikan seluruh pihak-pihak terkait demi kebutuhan NKRI. Tak sedikit nilai-nilai pemerintahan dari era Presiden Gus Dur yang diimpelementasikan pemerintah sekarang untuk menjaga keharmonisan di tengah masyarakat.

(bil/kha)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads