Menelisik Lokasi Asli Prasasti Sangguran

Muhammad Aminudin - detikNews
Kamis, 12 Feb 2015 14:17 WIB
(Foto: M Aminuddin)
Malang -

Prasasti Sangguran yang dibuat tahun 928 Masehi diinformasikan telantar di Inggris. Di mana lokasi awal sebenarnya prasasti yang populer disebut Minto Stone itu berada?

detikcom mencoba menelusuri berdasarkan fakta yang tertulis pada pahatan di prasasti yang kini dalam penguasaan keluarga bangsawan Inggris, Lord Minto itu, hingga bertemu dengan Suwardono, dosen IKIP Budi Utomo. Suwardono pernah menulis artikel ilmiah tentang "Korelasi Candi Songgoriti dengan Prasasti Sangguran Tahun 928 Masehi" pada 2002 silam.

Suwardono menuturkan, mengutip penulisan JLA Brandes (arkeolog Belanda yang mendalami Indonesia), pada 1913 terkait Prasasti Sangguran diketahui, bahwa pemahat atau penulis menggunakan huruf Jawa Kuno yang menerangkan detil momen peresmian atau peletakan serta lokasi awal dari prasasti.

"Saya mencoba mengartikan kutipan yang ditulis Brandes, di situ bisa diketahui jelas hari, tanggal, tahun dan lokasi awal prasasti dengan penyebutan nama daerah atau tempat yakni Kandat atau Ngandat," ujarnya berbincang dengan detikcom, Kamis (12/2/2015).

Dijelaskan dalam prasasti, bahwa Prasasti Sangguran itu bertanggal 14 paro terang (suklapaksa) bulan Srawana 850 saka atau bila dikonversikan ke penanggalan Masehi adalah 2 Agustus 928 M atas perintah Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa mengutus patihnya, Rakryan Mapatih Pu Sindok Sri Isanawikrama dari kerajaan Mataram kuno, Jawa Tengah, bahwa Desa Sangguran yang masuk wilayah Waharu, dijadikan sima atau Desa perdikan yang penghasilannya diperuntukkan bagi kelangsungan bangunan suci para pandai besi (sima kajurugusalyan) di Mananjung.

"Jika mengutip lagi transkrip secara lengkap pada tahun 1913 diterbitkan oleh Krom dan Brandes dalam Oud-Javaansche Oorkonde. VBG, LX. Disebutkan bahwa batu prasasti tersebut berasal dari daerah Malang, yang menurut Krom berasal dari Desa Ngandat atas dasar laporan-laporan kolonel Adams sekitar tahun 1814. Dimana Ngandat itu, ya di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sekarang," tuturnya.

Suwardono melanjutkan, upaya melacak Ngandat pun dilakukan hingga didapat suatu keterangan dari para penduduk yang mendengar dari cerita-cerita leluhurnya masa itu bahwa asal prasasti berada di sebuah belik (mata air), yang dikenal dengan ‘belik tengah’. Ngandat juga disebut‎Kolonel Adams tahun 1814, jika di wilayah tersebut ditemukan bekas candi yang diduga menjadi tempat asal prasasti.

Belik tengah itu sekarang adalah sebuah kolam mata air berada di kompleks Vihara Dhammadipa Arama di Jalan Mojorejo, Kota Batu.

"Ketika saya sampai di situ, tidak satupun mengetahui soal prasasti, namun keberadaan kolam air memang ada. Keyakinan pun ada bahwa itu bukan tempat asal prasasti, karena setiap situs atau bangunan zaman dahulu selalu diikuti kompleks bangunan lain minimal batu bata kuno bekas candi," ungkapnya.

Upaya pencarian tidak berhenti di situ, Suwardono bergerak menuju Punden Mojorejo yang berjarak sekitar satu kilometer arah utara Vihara. Disana terdapat bebatuan kuno yang kondisinya sudah memprihatinkan.

"Saya pun yakin di Punden Mojorejo itulah, tempat asal Prasasti Sangguran melihat dari bekas peninggalan yang ditemukan di situ. Sementara Vihara tadi, lokasi baru prasasti yang sudah bergeser sebelum dibawa Mackenzie (Letkol Collin Mackenzie yang ditugaskan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles mendokumentasikan benda-benda bersejarah-red) ke Surabaya tahun 1812," beber Suwardono.

Suwardono kembali menegaskan, makna lahirnya Prasasti Sangguran bahwa Raja Wawa menginginkan kemakmuran daerah setempat digunakan menyokong pendanaan bangunan suci di Mananjung, hingga dibebaskan dari pajak.

‎"Saya mencoba menyamakan arti Sangguran dengan Ngandat atau Kandat, jika di dalam bahasa Jawa memiliki makna sama," ungkapnya.

Pencarian Suwardono berlanjut dengan mencari dimana bangunan suci para pandai besi (sima kajurugusalyan) di Mananjung yang dimaksud dalam prasasti.

"Saya mengarah ke Candi Songgoriti, jadi Songgoriti dulu disebut Mananjung dan sempat ditulis dalam prasasti zaman Raja Airlangga abad 11 yang berjarak sekitar 6 kilometer arah barat, di situ dikenal sebagai tempat pandai besi juga agamawan jaman dulu," paparnya.

(nwk/nwk)