Beredar SMS Pollycarpus Direkrut BIN sebagai Agen Utama Intelijen
Selasa, 01 Feb 2005 15:14 WIB
Jakarta -
Penyelidikan kasus kematian aktivis HAM Munir tampaknya masih panjang dan berliku. Pasalnya, sampai saat ini pihak kepolisian belum menemukan fakta dan data kuat yang menunjuk ke siapa pelaku maupun motifnya.Keterangan Kapolri Jenderal Pol Dai Bachtiar dan Kabagreskrim Mabes Polri Komjen Pol Suyitno Landung hanya menyebutkan bahwa penyelidikan yang dilakukan oleh Kepolisian RI terhadap kasus ini sudah mengarah ke dua orang, yakni Pollycarpus Budi P dan satu orang lagi berinisial Elsg yang kini masih berada di Belanda untuk menjalani perawatan, yaitu operasi tumor."Sampai saat ini pemeriksaan sudah mengarah ke dua saksi kunci, yakni Pc dan Elsg," kata Kabagreskrim Komjen Suyitno Landung. Meskipun penyelidikan mengarah kepada Elsg dan Pc, keduanya masih ditetapkan sebagai saksi. Sedangkan untuk tersangka sampai saat ini belum ada.Penyelidikan terhadap 2 saksi kunci saat ini masih berlangsung. Elsg disebut-sebut saat di pesawat Garuda adalah orang yang duduk di sebelah Munir. Sedangkan Pollycarpus merupakan pilot Garuda yang sempat mengajak ngobrol dan sempat bertukar tempat duduk dengan Munir. Dalam penerbangan tersebut, Polly turun di Singapura.Dalam pemeriksaan keduanya, Polly sempat dikabarkan mempunyai pistol yang didapat dari Badan Intelijen Negara (BIN). Pistol itu berjenis P-2 Double Aaction buatan Pindad. Izin penggunaan pistol dikeluarkan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) sejak 10 Februari 2004 hingga 31 Desember 2004.Pistol tersebut dikeluarkan berdasarkan daftar administrasi BIN bernomor 210, dengan nomor register AC.000018xxxx. Pistol tersebut menurut situs resmi PT Pindad memiliki kaliber 9 x 19 mm dengan sejumlah keunggulan, seperti kompak, performa tinggi, ketahanan tinggi, andal, dan cocok untuk militer dan polisi.Terhadap kabar kepemilikan pistol tersebut, Polly membantahnya. Dugaan Polly terkait dengan lembaga intelijen negara ini sempat mencuat saat awal-awal penyelidikan tengah bersangsung.Kini, penyelidikan pengungkapan kasus kematian Munir seakan jalan di tempat. Polisi tampaknya kesulitan mencari bukti-bukti, meski berbagai dugaan sudah didapatkan.Saat penyelidikan tengah berlangsung, beredar SMS di kalangan wartawan yang mengabarkan seputar keterlibatan Pollycarpus di BIN. Pesan berantai tersebut berbunyi : Pilot Garuda Pollycarpus: Pada bulan 02-2002 di rekrut oleh Muchdi PR Deputi V BIN sebagai agen utama intelijen negara, diangkat dengan Skep Ka BIN nomor 113/2/2002. Ia diberi senjata api pistol, ditandatangani oleh Serma Nurhadi dan diperpanjang oleh Serma Suparto (SPT). Lebih jauh dalam SMS tersebut menyebutkan, Sehari setelah kasus itu, nama Polly muncul di media, yang bersangkutan kemudian diminta kembalikan pistol dan hari itu juga, seluruh dokumen Polly, di hapus atau dihilangkan. Yang memerintah adalah Muchdi PR, Spt dan Asad Waka BIN. Gang of 3 ini yang sebenarnya kuasai BIN. Polly sering ke BIN untuk ketemu Muchdi PR untuk merencanakan pembunuhan Munir karena takut di luar negeri Munir akan membuka lagi kasus penculikan aktivis di akhir orba 1997 lalu. Di akhir SMS berbunyi, Penyidik Polri dan Kepala BIN yang baru (Syamsir Siregar) diduga mengetahui keterlibatan ke-3 pejabat BIN tersebut dalam pembunuhan Munir. Tetapi tidak berani mengungkap..SMS ini beredar di kalangan wartawan, sejumlah aktivis dan pejabat. Ketika detikcom mencoba mengkonfirmasikan dugaan keterlibatan 3 pejabat BIN ke Kepala BIN Syamsir Siregar melalui sambungan telepon selular, tak diangkat.Sementara itu, pengacara Pollycarpus, Suhardi Somomoeljono saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon tak mau menanggapi adanya kabar tersebut. Ketika didesak, justru Suhardi balik meminta kepada pihak Kepolisian untuk memenuhi kewajibannya. Di antaranya kewajiban hukum kepolisian untuk melakukan otopsi terhadap Munir, kewajiban polisi untuk mengambil sisa organ almarhum Munir di tim forensik Belanda, dan menyelidiki protap kepergian Munir ke Belanda."Kepergian Munir untuk sekolah ke Belanda itu perlu diselidiki juga. WNI jika sekolah ke luar negeri itu kan ada SK-nya. Nah, itu harus diselidiki siapa yang biayai, ke Belanda kenapa naik Garuda, bukan KLM, dan lainnya," kata Suhardi.Menurutnya, Polly berada di pesawat Garuda bersama Munir karena mendapat tugas dari Garuda. "Penjelasan PT Garuda saya kira jelas, yang menugaskan Polly ke Singapura," imbuhnya.
(jon/)










































