Jika dirunut, serangan tajam elite PDIP seperti Effendi Simbolon dan Masinton Pasaribu berawal dari pergeseran orbit 'Trio Singa'. Semua berawal saat Luhut, Rini, dan Andi yang sejak awal jadi tim sukses Jokowi dan kerap berhubungan dengan elite PDIP kemudian bergeser ke Istana Negara setelah dilantik Presiden Jokowi.
ย "Kalau orbitnya mengalami pergeseran ya wajar saja. Orbitnya sekarang lebih banyak berkomunikasi dengan jaringan kepresidenan. Kalau dulu masih di parpol dong orbitnya," kata politikus senior PDIP Hendrawan Supratikno, kepada wartawan, Rabu (11/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini elite PDIP terus memantau apakah pergeseran orbit 'Trio Singa' telah mengubah ketiga orang dekat Jokowi itu. Namun diakui Hendrawan, terlalu bahaya kalau reshuffle kabinet didorong begitu saja tanpa pertimbangan yang matang.
"Reshuffle ide menarik dibicarakan, tapi terlalu berisiko kalau dilakukan dengan tergesa-gesa," tandas Hendrawan.
Senior PDIP lainnya, TB Hasanuddin, menuturkan bahwa pergeseran orbit itu semakin jauh dari Mega dan PDIP karena beberapa elite PDIP menilai tiga tokoh itu jadi barrier atau penghalang hubungan PDIP dengan Presiden Jokowi.
โ"Saya banyak mendengar mulai menghendaki adanya reshuffle di kabinet Pak Jokowi, bahkan secara direktif menunjuk satu dua orang yang konon itu menjadi barrier (pembatas -red) beliau itu antara Istana dengan keputusan partaiโ," kata politikus senior PDIP, TB Hasanuddin.
Namun demikian politikus senior PDIP masih menghormati Jokowi. Tak mungkin memaksakan reshuffle kabinet yang sepenuhnya hak prerogatif Jokowi. "Saya mengajak lebih arif soal reshuffle ya, kita serahkan beri keleluasaan Pak Jokowi. Beliau kan manajer tertinggi di republik ini," kata anggota Komisi I DPR itu.
(van/nrl)











































