"Tadi kepengen menimba ilmu dari Pak Ahok, sudah dijadwalkan bertemu di antaranya bagaimana Malang ini ingin menghasilkan peningkatan PAD dari retribusi parkir juga masalah transportasi publik dan pelayanan," ujar Anton.
Hal ini diungkapkannya kepada wartawan usai bertemu Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2015). Sebelumnya Anton juga pernah berguru kepada Jokowi saat menjabat sebagai gubernur.
"Kami lihat pertama kali ke Jakarta, kita belajar tentang teknologi pajak waktu zaman Pak Jokowi. Ternyata penerapannya di Malang sangat luar biasa. 80 persen peningkatan pajak secara online. Satu tahun kami dapat Rp 100 miliar. Sekarang kami ingin tambah PAD dari parkir (sistem elektronik)," lanjutnya.
"Kami lihat sistem elektronik yang ada di Jakarta, biar pun belum efisien, tapi sangat bagus," sambung wali kota pertama beretnis Tionghoa tersebut.
Anton ingin kelak kota yang dipimpinya bisa menjadi kota wisata yang lebih menarik lagi. Mengingat karakteristik Kota Malang yang tak kalah padatnya dengan Jakarta, dia pun ingin belajar mengelaborasi manajamen pengelolaan kota dari Pemprov DKI.
"Kami ingin juga terapkan di kota kami karena Malang juga kota wisata, kota pendidikan dan penduduknya banyak. Jadi kami ingin kolaborasikan. Malang hampir sama dengan DKI," kata pria berbaju batik warna cokelat ini.
"Jadi memang saya lihat penguraian kemacetannya bagus. Jakarta itu ibarat orang sakit sudah kronis. Nah, Malang belum tapi sudah ada penyakit. Kalau dibiarkan, bisa kronis juga pada 5-10 tahun ke depan," imbuhnya.
Dengan mencontoh penerapan sistem bayar parkir secara elektronik seperti di Ibu Kota, diharapkan ke depannya pendapatan asli daerah (PAD) Malang bisa meningkat.
"(PAD dari parkir) Kecil, cuma Rp 3 miliar. Sekarang kami naikkan jadi Rp 5 miliar padahal kalau sistemnya baik, bisa naik jadi 100 persen. Bisa Rp 10 miliar. Makanya pakai uang elektronik bagus sekali, ini salah satu inovasi," tutup Anton.
(aws/mok)











































