Selama ini pemimpin Jakarta bukannya berdiam. Sejumlah cara telah dilakukan, agar banjir tak lagi menyerang. Seperti normalisasi sungai, pengerukan saluran air di permukiman warga, hingga pembuatan sumur resapan.
Namun apa daya, mimpi Jakarta bebas banjir masih sebatas angan-angan. Pakar air dari Universitas Indonesia yang juga Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta Firdaus Ali dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (11/2/2015)
menyebut ada tiga persoalan besar yang menjadi pemicu banjir di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Kepala Pusat Komunikasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa setiap kali hujan turun lama di Jakarta, beberapa titik jalan akan langsung tergenang air. Hal itu terjadi karena daya tampung air pada drainase yang kecil.
"Drainase perkotaan di Jakarta disiapkan untuk menampung 50 milimeter air. Kalau lihat (curah hujan) sampai 100 mm, maka air akan sulit (ditampung)," kata Sutopo Purwo Nugroho dalam diskusi 'Bencana dan Kita' di Warung Daun, Jalan Cikini Raya,
Jakpus, Sabtu (18/1/2014) lalu.
Penyebab kedua kata Firdaus adalah adanya limpasan air dari saluran dan sungai. Hampir semua saluran dan sungai di Jakarta tak mampu menampung air hujan yang turun.
Menurut Firdaus, penyebab banjir di Jakarta lainnya adanya rob/air pasang laut. Banjir rob dipicu oleh perbedaan elevasi daratan dengan laut di Jakarta. Sayangnya dari 32 kilometer garis pantai, masih banyak titik-titik yang belum memiliki tanggul.
"Sehingga ketika laut pasang air naik, air melimpas ke darat," kata Firdaus.
(erd/nrl)











































