"Memang belakangan kental politisasinya ketimbang unsur bisnisnya dari isu yang berkembang. Harusnya dilihat secara obyektif tujuan MoU itu," kata Pengamat politik dari Formappi, Lucius Karus di Jakarta, Selasa (10/2/2015).
Diakuinya, aroma politisasi kental ditembakkan lawan politik Hendro dengan memanfaatkan kehadiran Presiden Jokowi dalam acara penandatangan MoU antara Proton dengan Adiperkasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politisi PDI Perjuangan yang juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga melihat kerjasama keduanya itu murni bisnis.
"Setahu saya, dia bisnis to bisnis ya," kata Ganjar menjawab pertanyaan para wartawan usai Ganjar menghadiri Hari Pers Nasional (HPN) di Batam kemarin.
Menurutnya, kerjasama kedua perusahaan tak usah menjadi polemik di masyarakat.
"Tidak usah diributkan, karena itu bagian dari proses investasi di Indonesia," katanya.
Presiden Jokowi pun menegaskan MoU antara Proton dengan Adiperkasa murni bisnis to bisnis dan dirinya datang dalam kapasitasnya sebagai undangan.
"Saya pada posisi diundang datang. Itu business to business. Jadi tidak perlu diramaikan," tegasnya.
Hendropriyono dalam berbagai kesempatan menegaskan dalam berkawan dengan siapa saja tidak pernah karena perhitungan untung-rugi karena dirinya beranggapan persahabatan seperti mendapatkan jodoh.
"Banyak yang iri melihat saya dan mengatakan dimanja Jokowi. Padahal yang melempar isu tak melihat secara obyektif," katanya.
Ditegaskannya, ide membangun pabrik mobil buatan Indonesia sudah menjadi cita-citanya dimana di usia yang sudah senja tetapi masih ingin berbakti kepada bangsa dan negara.
"Pemkirannya sederhana, dulu kita bisa bikin pabrik sepeda, negara tetangga belum bisa bikin. Sekarang tetangga ada yang bikin pabrik mobil, kita belum ada. Bangsa kita bisa menjadi pecundang karena ada saja oknum menjelek-jelekan orang lain, sementara dia tidak berbuat apapun untuk bangsanya," tegasnya.
(aws/ear)











































