Pangeran Diponegoro bersama 800-an orang pasukannya membuat perkemahan di masa damai atau sebelum perundingan dengan Jenderal De Kock di gedung Residen Kedu di Magelang. Diponegoro berada di tempat tersebut selama 20 hari pada saat bulan puasa hingga Idul Fitri atau mulai tanggal 8-28 Maret 1830.
"Saya tinggal di rumah yang paling pinggir sendiri dekat pulo, dulu pernah didiami Pangeran Diponegoro," ungkap warga setempat, Supandi (65) di rumahnya kepada wartawan detikcom, Senin (9/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanaman banyak yang rusak. Batu tempat salat Pangeran Diponegoro juga berpindah atau bergeser ke selatan sekitar 100-an meter," katanya.
Lama-kelamaan, lanjut dia, batu datar agak lonjong berukuran 1 X 1,5 meter yang dulunya ke arah kiblat, kini bergeser. Karena sering ada banjir, batu itu bergeser ke arah selatan dan sudah tidak mengarah ke kiblat lagi.
Menurut Pandi, panggilan akrab Supandi, selama tinggal di tempat itu dia banyak melihat beberapa orang yang datang berziarah baik siang ataupun malam hari. Mereka kebanyakan menuju tempat petilasan batu tempat salat tersebut.
"Ya di tempat sekitar batu tempat Pangeran Diponegoro salat atau dulu pernah ada langgar di tempat itu," kata Pandi didampingi anaknya Bangun.
Pandi tidak banyak bertanya kepada orang-orang yang datang berziarah. Beberapa yang datang kebanyakan mengaku berasal dari Yogyakarta.
"Saking pundi? (dari mana-red)," tanya Pandi menirukan ucapan saat bertemu dengan para peziarah.
"Saking Yogya (dari Yogya-red). Mungkin masih ada hubungan keluarga atau keturunan dari Pangeran Diponegoro atau bekas prajurit pengikutnya," lanjut Pandi.
Pulau yang dijadikan kamp perkemahan Pangeran Diponegoro dan tempat batu berada itu terletak tidak jauh dari Kantor Residen Kedu tempat perundingan. Tidak lebih dari 500 meter arah bawah kantor residen menuju pinggir sungai. Di awal Ramdan, selama lebih 20 hari hingga tanggal 28 Maret 1830, tidak ada peperangan atau damai.
Saat detikcom berkunjung dengan ditemani Bagus Priyana dari Komunitas Kota Toea Magelang, kondisi air Kali Progo masih tinggi karena hujan. Sulit untuk menyeberang sehingga tak bisa melihat dari dekat pulo yang pernah dijadikan tempat perkemahan Diponegoro bersama 800-an pasukannya itu.
(bgs/try)











































