"Anda harus bangga dengan KPK yang Anda miliki ini. Menurut pendapat saya, KPK ada di tiga besar lembag antikorupsi terbaik se-Asia bersama ICAC Hong Kong dan CPIB Singapura," ujar mantan komisioner Independent Commission Against Corruption (ICAC) Hong Kong, Tony Kwok dalam perbincangan dengan detikcom, di Epicentrum, Kuningan Jaksel, Senin (9/2/2015).
Tony merintis karir di ICAC sejak awal yakni pada tahun 1975, satu tahun setelah lembaga itu didirikan. Semenjak menduduki posisi tertinggi dalam karirnya yakni menjadi wakil ketua ICAC pada 2006-2002, Tony menyudahi masa tugas di 'KPK Hong Kong' dan keliling 25 negara di dunia, melakukan kajian terhadap praktek korupsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lihat saja KPK dengan tenaga sejumlah itu, mampu menjerat ikan besar. Tokoh-tokoh besar. Dalam waktu yang singkat. Mengungkap kasus-kasus korupsi besar," kata Tony.
KPK memang memiliki sejumlah capaian mentereng terkait pengusutan kasus korupsi yang melibatkan 'prominent actor': tiga menteri aktif, tiga ketum parpol dan tiga jenderal polisi.
Memang lembaga antikorupsi di negara lain, kata Tony, juga mampu menjerat 'big fish'. Namun Tony menggarisbawahi, sedikit sekali yang tingkat pengusutannya secepat KPK.
"Lihat saja negara lain, Malaysia misalnya. Dia mampu mengusut ikan besar, tapi setelah proses lama, selama lima tahun," ujar Tony.
KPK juga memiliki catatan ciamik lainnya yakni rekor pemidanaan 100 persen. Sampai saat ini, setiap tersangka di KPK selalu menjadi terpidana.
(fjp/vid)











































