"Jumlah penumpang di 2014 itu ada 200 juta orang. Antar kota 80 juta orang. Jadi semuanya itu Jabodetabek paling besar," kata Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Tri Handoyo di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2015).
Kemampuan melayani angka yang hampir mendekati jumlah penduduk Indonesia itu melibatkan 739 perjalanan KRL per hari dengan menggunakan 65 rangkaian KRL per hari di Jabodetabek. Dengan begitu, rata-rata per hari ada 700 ribu orang menggunakan KRL sepanjang 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menutupi kelemahan tersebut, PT KCJ akan mendatangkan 120 armada di tahun 2015 ini. Termasuk membenahi sistem persinyalan yang disebutkan mengalami penurunan angka gangguan hingga 46,61 persen dibandingkan tahun 2013.
"Nanti tahun depan tambah lagi 120 (gerbong) di tahun 2015. โHari Senin itu paling peak (kepadatan penumpang), lalu mendekati akhir pekan slow. Gangguan sarana juga luar biasa penurunannya," ucap Tri.
Sementara menurut Direktur Operasional dan Sarana PT KCJ Dwiyana mengatakan, PT KCJ mendapatkan target 1,2 juta penumpang pada tahun 2019. Untuk mencapai target itu, selain jumlah armada, PT KCJ juga akan mendatangi perusahaan-perusahaan Jepang terkait suku cadang, tenaga ahli dan lainnya.
"Kita tambah juga gate tiap tahun dan toilet itu sekarang kita seperti hotel bintang 5, seperti di Bogor itu," ujar Dwiyana di lokasi yang sama.
โUntuk anggaran peningkatan pelayanan ini, Dwiyana menyatakan, prasarana masih diasuh oleh PT KAI. Sementara operasional dan pelayanan berada di tangan PT KCJ. Walau begitu, PT KCJ memiliki modal Rp 180 miliar untuk pengadaan KRL.
"Investasi KCJ di 2015 meliputi prasarana stasiun, kemudian IT-nya dan di samping itu bangunan perawatan KRL. Kemarin kita kerjasama dengan bank untuk pinjaman Rp 180 miliar, ini multiyears, pembelian KRL. Sedangkan stasiun dan jalan rel, persinyalan, itu masih di KAI," ucap Dwiyana.
(vid/nwk)











































