Sang Robin Hood dari Makassar?

Penangkapan Farid R Faqih (3)

Sang Robin Hood dari Makassar?

- detikNews
Senin, 31 Jan 2005 13:57 WIB
Jakarta - Banyak pihak meragukan tudingan pencurian yang dituduhkan kepada Koordinator Government Watch (Gowa) Farid R Faqih. Pasalnya selama ini Farid dikenal sebagai sosok aktivis yang idialis. Benarkah?Bernama lengkap Farid Rasyid Faqih. Dia dilahirkan di kota Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 27 Juli 1953 silam. Farid meraih gelar sarjananya di Institut Pertanian Bogor. Dan saat ini dia juga dipercaya sebagai Sekjen Himpunan Alumni IPB.Kebanyakan kawan dekatnya mengaku mengenal Farid sebagai sosok yang sangai menjunjung tinggi idealisme. Farid juga dinilai memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang tinggi. Sebagai aktivis LSM tulen, dia tidak pernah tergoda untuk berpolitik praktis."Yang jelas, dia paling ngga bisa melihat orang susah," kata Widya Rahman, salah satu aktivis Gowa kepada detikcom. Widya mengaku kenal dengan Farid sejak sama-sama kuliah di IPB.Berbagai organisasi didirikan Farid untuk menyalurkan hobinya membantu sesama. Salah satunya mendirikan sekolah malam bagi anak-anak jalanan atau gelandangan. Sejumlah tenaga relawan direkrutnya untuk memberikan pendidikan kepada mereka yang tak terjangkau pemerintah. "Pokoknya dia ngga bisa diam," imbuh Widya.Hal yang sama juga disampaikan Kristina Ratih, istri Farid. Menurut Kristina suaminya memiliki solidaritas kemanusiaan yang tinggi. Farid memiliki jiwa pemberi dan sosial yang tinggi. Farid orang yang selalu berupaya agar hidup ini berarti bagi mereka yang menderita.Ratih berkisah, Farid pernah memberikan makanan untuk seorang pengemis di jalanan. Padahal makanan itu sedianya akan diberikan kepada anak mereka di rumah. Setiap kali terjadi bencana, Farid juga selalu langsung terjun ke lokasi untuk waktu yang tak tentu.Tindakan refresif aparat keamanan beberapa kali dialami Farid sebagai konsekwensi kegiatannya. Pada awal Januari tahun 1978 dia dijebloskan ke penjara selama 9 bulan di Lodam III Siliwangi, Bandung. Gara-garanya dia menolak pembubaran Dewan Mahasiswa IPB yang dipimpinya.Pentungan sejumlah anggota polisi juga pernah mendarat di kepala Farid. Saat itu pria yang memelihara kuncir rambut ini tengah memimpin aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Dia menolak permintaan polisi untuk segera membubarkan diri.Terakhir terjadi di Aceh kemarin. Pada tanggal 26 Januari 2005 Farid ditangkap dengan tuduhan mencuri barang bantuan untuk korban bencana alam Aceh. Dalam peristiwa itu Farid sempat dipukuli hingga babak belur oleh Kapten Syuaeb, personel TNI AD.Benarkah karier Farid benar-benar tanpa noda? Yang jelas di antara cerita mengenai sepak terjang Farid yang heroik, ada juga cerita buram mengenai dirinya. Pada tahun 1997, Farid pernah dipecat sebagai Direktur Eksekutif Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Farid diduga kuat membuat raib dana sebesar US $ 80 ribu."Kalau kita berbicara fakta sejarah, pada waktu itu Mulyana W Kusuma sebagai Sekjen melalui rapat presidium pada akhirnya memang memberhentikan dia (Farid). Sekali lagi itu (pemecatan Farid) adalah hasil rapat presidium," kata mantan anggota Badan Pengurus Harian dan Presidium KIPP, Standarkia kepada detikcom.Sayangnya Standarkia yang kini aktif sebagai Wakil Sekjen Jaringan Pro-Demokrasi itu enggan berkomentar banyak mengenai peristiwa itu. Dia hanya mengatakan, ketika KIPP banyak mendapat tekanan dari pemerintah justru terjadi pembusukan dari dalam."KIPP berdiri dengan darah dan air mata. Menurut pemahaman kami ada gerakan pembusukan dari dalam, dan itu dilakukan oleh seorang personel oknum. Kalau ini terbuka ke permukaan, seolah-olah menimbulkan image buruk bagi LSM. Ya kita tahulah siapa. Sebagai salah satu pendiri saya sebenarnya tidak ingin membicarkan hal ini lagi, begitu juga dengan teman-teman pendiri lainnya," ungkap Standarkia.Mengenai sosok Farid, Standarkia menilai sebagai pribadi yang baik. Dari sisi organisasi, Farid juga seorang seorang manajer yang baik. Hanya saja terkadang Farid bertindak berlebihan sehingga justru terjadi anorginized. Artinya bila dilihat dari penguasaan konsep, secara manajemen Farid orang baik. Tetapi dalam konteks tertentu, misalnya dalam tingkat operasional, yang dilakukannya bisa menjadi sebuah distorsi kepada organisasi. Akibatnya, Farid kerap cenderung berjalan one man show.Jadi benar Farid melakukan penggelapan dana? "Ha...ha...ha,,,, ini artinya tidak etis membicarakan orang dalam kondisi seperti ini. No comment, terserah kalau anda ingin mengilustrasikannya seperti apa," kata Standarkia.Sedangkan Widya Rahman saat ditanyai komentarnya mengenai kasus ini mengatakan, tidak yakin Farid terlibat penggelapan uang itu. Menurutnya peristiwa itu bagian dari rekayasa yang dilakukan rezim Soeharto yang tidak ingin ada KPU bayangan."Jauh sekali Bang Farid dari prasangka itu, saya tahu hidupnya dia sih. Hidupnya dia bukan untuk kemewahan. Paling juga kalaupun itu diterima, mungkin dia berikan buat orang lain. Seperti Robin Hood-lah," tukas Widya. (djo/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads