Pilot AirAsia Sempat Tinggalkan Kursi, KNKT: Itu Tak Berdasar Data Kami

Tragedi AirAsia

Pilot AirAsia Sempat Tinggalkan Kursi, KNKT: Itu Tak Berdasar Data Kami

- detikNews
Senin, 02 Feb 2015 11:50 WIB
Pilot AirAsia Sempat Tinggalkan Kursi, KNKT: Itu Tak Berdasar Data Kami
(Foto: Facebook Menhan Singapura Ng Eng Hen)
Jakarta - Reuters memberitakan Kapten pilot AirAsia QZ8501 sempat meninggalkan kursinya dan melakukan prosedur yang tidak lazim saat kopilot kehilangan kendali pesawat. Saat kapten pilot sudah kembali ke kursinya, sudah terlambat untuk menyelamatkan pesawat. Apa kata Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)?

Informasi tersebut keluar dari dua narasumber anonim yang mengetahui investigasi AirAsia kepada Reuters yang dilansir Sabtu (31/12/2015). Reuters juga melaporkan bahwa masalah perawatan pada Flight Augmentation Computer (FAC) dan cara pilot mencapainya menjadi inti dari investigasi.

Reuters juga mengutip Bloomberg yang menyebutkan pilot mereset FAC, kemudian menarik saklar pemutus tenaga listrik pada FAC. Reuters mendapatkan informasi bahwa yang menarik saklar pemutus tenaga listrik itu adalah kapten pilot Iriyanto dan bukan kopilot Remy Plesel yang sedang menerbangkan pesawat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari berbagai sumber yang dikutip detikcom, FAC berfungsi mengendalikan rudder (sirip belakang pesawat yang bisa menentukan arah), sarung perlindungan saat penerbangan, perhitungan kecepatan hingga mendeteksi wind shear (angin samping).

Pemutusan tenaga listrik ini tidak langsung membuat pesawat upset (membuat pesawat dalam kondisi bahaya dan terancam kehilangan kendali), namun tindakan itu akan menghilangkan sarung perlindungan pada pesawat, yang mencegah pilot mengendalikan pesawat di luar batas keselamatan. Imbasnya, kopilot harus menerbangkan burung besi itu secara manual dalam ketinggian yang sulit.

Keputusan kapten pilot untuk mematikan listrik kepada sistem FAC mengejutkan para investigator. Karena prosedur yang biasanya dilakukan adalah melakukan reset, dengan menekan tombol yang ada di panel di atas kepala.

"Kamu bisa mereset FAC, tapi untuk memutus listrik pada itu (FAC) sangat tidak biasa. Kamu tak menarik saklar kecuali ada kondisi yang sangat darurat. Saya tidak tahu apakah ada (kondisi yang sangat darurat) dalam kasus ini, tapi ini sangat tidak biasa," jelas seorang pilot Airbus 320 yang menolak disebutkan namanya dilansir Reuters.

Untuk menarik saklar listrik itu, kapten pilot harus bangun dari tempat duduknya.

"Saklar listrik itu terletak pada panel dinding di belakang tempat duduk kopilot dan sangat sulit bahkan tidak mungkin dijangkau dari kursi kiri, di mana kapten pilot duduk," demikian menurut 2 pilot berpengalaman sambil menunjukkan gambar kondisi kokpit.

Setelah kapten pilot menarik sakral untuk memutus listrik ke FAC, kopilot kemudian menarik pesawat untuk naik dengan tajam dan menurut investigator, pesawat mengalami stall atau kehilangan daya angkat.

"Tampaknya dia (kopilot) terkejut atau dikejutkan oleh kondisi ini," kata seorang yang mengetahui materi investigasi, merujuk pada keputusan kapten pilot memutus listrik pada sistem komputer.

Kapten pilot akhirnya kembali berusaha mengambil kontrol pesawat, namun kapten pilot tidak dalam posisi untuk melakukan intervensi segera untuk memulihkan pesawat yang upset. Data lintasan pesawat yang telah dipublikasikan menunjukkan, kemungkinan sulit bagi seseorang untuk bergerak di sekitar kokpit dalam kondisi pesawat menukik-miring dan tidak stabil. Tapi sejauh ini, tidak ada konfirmasi dari pergerakan di kokpit.

"Kopilot menarik pesawat ke atas, dan pada saat sang kapten kembali untuk mengambil kendali, itu sudah terlambat," demikian ungkap sumber yang mengetahui isi investigasi.

Respons KNKT

"Informasi yang ngawur itu," kata Ketua Investigasi AirAsia QZ8501 Prof Mardjono Siswosuwarno melalui pesan singkat saat dikonfirmasi detikcom, apakah benar adanya informasi bahwa pilot memutus aliran listrik pada sistem komputer, yang ditulis Senin (2/2/2015) ini.

Sedangkan Ketua Subkomite Udara KNKT Masruri mengatakan informasi bahwa pilot memutus listrik pada sistem komputer itu tidak berdasar. "Kita nggak bisa bilang itu, yang jelas itu tidak berdasar data yang kami punya".

Dicecar tentang kapten pilot yang sempat meninggalkan kursinya, Masruri mengatakan, "Tidak benar. Tidak ada itu. Kok bisa tahu (pilot meninggalkan kursi)? Kan nggak ada video, nggak kelihatan".

Ditanya apakah data Flight Data Recorder (FDR) tak menunjukkan adanya parameter yang mati dan Cockpit Voice Recorder (CVR) tidak menunjukkan adanya percakapan pilot meninggalkan kursi, Masuri bersikukuh, "Itu tidak berdasar data yang kami punya".

"Tanya saja sama sumber Reuters itu, apa dia punya ilmu kebatinan? Saya tidak tahu dari mana data itu. Mungkin pas kemarin presentasi ada pertanyaan yang belum terjawab, jadi dia analisis sendiri," tutur Masruri yang dihubungi detikcom hari ini.


(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads