DetikNews
Kamis 29 Januari 2015, 13:18 WIB

Tabrakan Maut di Pondok Indah

Positif-Negatif Narkoba di Kasus Kecelakaan Maut Christopher, Ada Kejanggalan?

- detikNews
Positif-Negatif Narkoba di Kasus Kecelakaan Maut Christopher, Ada Kejanggalan? Chris (kiri) dan Ali (kanan)
Jakarta - Kecelakaan maut yang melibatkan Christopher Daniel Sjarif (22) di Pondok Indah, Jaksel, kini memasuki babak baru. Setelah sempat heboh karena diduga mengkonsumsi narkoba, Chris kini terbebas dari tuduhan itu. Hasil uji lab BNN dan Polri menyatakan negatif. Apakah ada keganjilan di dalamnya?

Dari pernyataan pejabat kepolisian, memang terlihat ada beberapa hal yang tidak konsisten. Mulai dari kepastian positif narkoba, hingga durasi uji tes lab yang lebih lama dari biasanya. Bila pada uji narkoba kasus lain, waktu pemeriksaan tak lebih dari tiga hari, ini berlangsung sampai sepekan. Chris juga masih mengaku memakai narkoba hingga saat ini, meski pengakuannya tak digubris polisi.

Kecelakaan maut terjadi pada Selasa (20/1) malam lalu. Kala itu, Christopher langsung diamankan oleh pihak kepolisian. Di pemeriksaan awal, dia mengaku mengkonsumsi narkoba jenis LSD (Lysergic Acid Diethylamide) bersama rekannya M Ali Riza.

Keesokan harinya, Rabu (21/1), Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningrat menggelar jumpa pers. Dia mengatakan, dalam pemeriksaan awal terhadap tersangka, diduga Christopher mengkonsumsi barang-barang tertentu.

"Sampai sejauh ini pemeriksaan terhadap tersangka, patut diduga mengkonsumsi barang-barang tertentu namun kita harus mengacu laboratorium forensik, Labfor Mabes Polri dan BNN," jelas Wahyu.

Wahyu mengatakan, untuk membuktikan itu pihaknya menunggu hasil pemeriksaan urine dan darah. Kemungkinan hasil pemeriksaan selesai malam harinya.

"Jenis obatnya belum diperiksa. Kita masih nunggu hasil pemeriksaan. Mudah-mudahan hasilnya malam ini selesai," terang Wahyu.

Malam harinya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul membenarkan bahwa Christopher mengkonsumsi LSD. Dia menyebut, mereka mengkonsumsinya sore hari, sekitar pukul 16.30 WIB bersama Ali. Saat itu, sempat disebut bahwa hasil tes Christopher sudah keluar, namun Ali belum.

"Untuk Ali hasilnya belum, tapi sudah dites," ujar Martinus.

Perbincangan soal kasus Christopher dan LSD pun bergulir. BNN memberikan data soal peredaran LSD di Indonesia dan efek-efeknya. Lalu, polisi juga menggeledah rumah Christopher untuk mencari barang bukti narkoba lainnya. Namun tidak menemukan apa pun.

Hingga akhirnya, pada Selasa (27/1) lalu, atau tepatnya sepekan setelah kecelakaan, polisi memberikan keterangan mengejutkan. Setelah dilakukan tes urine di laboratorium BNN, Christopher dinyatakan negatif narkoba. Semua keterangan di awal pemeriksaan dibantah dan 'diluruskan'. Polisi menegaskan, pernyataan soal Christopher dan Ali positif narkoba hanya dari pengakuan mereka, bukan dari pemeriksaan laboratorium.

"Hasil pemeriksaan urine dari BNN yang dilakukan terhadap Christopher Daniel Sjarif adalah negatif," kata Kapolres Jaksel Kombes Wahyu Hadiningrat, di kantornya, Jl Wijaya, Jakarta Selatan.

Martinus pun mendukung keterangan Wahyu. Dia menyebut, informasi awal yang disampaikan berasal dari pengakuan para tersangka.

"Kami ingin menyampaikan untuk meluruskan sekaligus menjawab klarifikasi dari teman-teman bahwa dalam pemeriksaan dan yang berdasarkan rilis pada hari yang lalu di Polres Jakarta Selatan disampaikan bahwa hasil pemeriksaan darah adalah negatif," kata Martinus.

Kepala BNN Komjen Anang Iskandar juga ikut bicara. Dia menegaskan kembali soal pengakuan Christopher tersebut.

"Sudah dicek di lab polisi dan BNN, ternyata hasilnya negatif. Dia dan rekannya hanya ngaku-ngaku saja (pakai LSD)," tutur Anang.

Anang membantah adanya dua hasil tes urine Chistopher yang berbeda hasilnya. "Di lab Polri dan BNN sama negatifnya, enggak ada perbedaan. Perbedaan dari mana ?" ujar pria kelahiran Mojokerto 18 Mei 1958 ini.

Kabiddokes Polda Metro Jaya Kombes Pol Musyafak memberi penjelasan lebih rinci. Menurutnya, pemeriksaan awal terhadap Chris dilakukan pada Rabu (21/1) pagi. Petugas Dokkes Polda Metro Jaya saat itu mengetes urine Christoper dengan 5 item narkotika, di antaranya amphetamine, methampetamine dan morfin.

"Dari pemeriksaan itu negatif semuanya," ucapnya.

Sebagai second opinion, petugas memeriksakan kembali Christoper ke RS Polri Kramat Jati dengan memeriksakan 8 item narkotika termasuk alkohol dan ekstasi. "Itu pun negatif," cetusnya.

Untuk menguji kembali hasil tes urine tersebut, petugas mengambil sampel darah dan urine Christoper untuk diperiksa di Badan Narkotika Nasional (BNN). Untuk diketahui, keterangan dari BNN ini yang dijadikan dasar penyidik untuk selanjutnya ditambahkan pada berkas acara pemeriksaan (BAP) seorang tersangka ke kejaksaan.

"Termasuk kita laksanakan wawancara dan analisis," imbuhnya.

Petugas juga melakukan pemeriksaan fisik terhadap Christopher untuk mengetahui gejala-gejala jika ia mengkonsumsi narkotika. "Dari pemeriksaan fisik terhadap Christopher didapatkan adanya peningkatan tekanan darah yaitu 140/80, kemudian denyut nadi meningkat dan juga ada kecemasan dan tidak bergairah," ujarnya.

Ciri-ciri tersebut, kata dia, memiliki kesamaan dengan ciri fisik pada seseorang yang tergejala memakai LSD. Apalagi, tambahnya, sebelumnya Chritopher mengakui jika dirinya telah mengkonsumsi LSD sebelum terjadinya kecelakaan tersebut.

Namun menurutnya, gejala seperti tekanan darah dan denyut nadi yang meningkat, bisa jadi karena pengaruh Christopher yang merasa tertekan karena statusnya sebagai tersangka.

"Kita pun kalau jadi tersangka barangkali denyut nadi meningkat, tekanan darah tinggi, berkeringat dan sebagainya. Jadi ini bisa terjadi pada siapa pun dan belum tentu juga pengguna narkotika," tuturnya.

Sebetulnya, berapa lama pemeriksaan lab urine dan darah untuk memastikan seseorang mengkonsumsi narkoba? Belum ada penjelasan dari polisi. Namun dari berbagai kasus sebelumnya, biasanya tidak lama.

Berkaca pada kasus pilot AirAsia berinisial FI, pemeriksaannya tidak lebih dari satu hari. Pada pemeriksaan round check awal, FI sempat dicurigai positif menggunakan morfin. Lalu, satu hari kemudian BNN kembali melakukan pemeriksaan lanjutan dengan melakukan tes urine, darah dan rambut. Hasilnya pun keluar.

"Berdasarkan hasil laboratorium yang bersangkutan tidak terbukti menggunakan morfin," kata penanggung jawab laboratorium tes BNN dokter Ririn kepada wartawan di kantornya, Senin (26/1/2015).

Namun, sekali lagi, keganjilan soal kasus ini sudah dibantah oleh kepolisian dan BNN. Mereka menegaskan, tak ada keistimewaan terhadap dua sahabat tersebut. Kasus ini dipastikan murni kecelakaan. Christopher pun masih ditahan.

"Tidak ada keistimewaan, semua punya hak yang sama di mata hukum," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul. Hanya saja motif Chris merebut kemudi mobil dan menabrak orang secara membabi buta masih saja misterius.

  • Positif-Negatif Narkoba di Kasus Kecelakaan Maut Christopher, Ada Kejanggalan?
    Chris (kiri) dan Ali (kanan)
  • Positif-Negatif Narkoba di Kasus Kecelakaan Maut Christopher, Ada Kejanggalan?
    Chris (kiri) dan Ali (kanan)

(mad/nrl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed