"Tingkat peredaran LSD sendiri tidak semarak sabu dan ekstasi yang paling banyak peredaran di Jakarta. Justru ganja, sabu dan ekstasi kemudian narkotika jenis lain-lainnya," ujar Kabag Humas Narkotika BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto ditemui di kantornya, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (21/1/2015).
Sejauh ini, hasil razia BNN di Jakarta juga tidak menemukan peredaran barang haram ini. Sumirat mengatakan, kalau awal pertama kali di produksi LSD diolah oleh prabik Sandoz di Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, efek stimulan dan halusinogen sendiri memiliki deskripsi yang berbeda. Seperti sabu atau ekstasi efek stimulan membuat pemakainya menjadi tambah energik.
"Sedangkan LSD efeknya halusinogen seperti ganja. Dalam pengemasannya, narkotika LSD dicetak dalam kertas dengan gambar animasi," tutupnya.
(edo/vid)











































