"Reaksi keras ini hanya akan berlangsung sesaat karena hubungan bilateral secara keseluruhan antara Indonesia dan kedua negara itu sangat penting," kata Ketua DPP PAN bidang Hubungan Internasional Bara Hasibuan dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (19/1/2014).
Masalah eksekusi mati karena kasus peredaran narkoba ini tak bakal memengaruhi cara pandang Belanda dan Brasil dalam melihat Indonesia. Relasi dua negara itu dengan negara terbesar di Asia Tenggara ini akan tetap dipertahankan.
"Mereka punya kepentingan strategis dalam hubungan dengan Indonesia. Indonesia negara penting, terbesar se-ASEAN, pasar besar, dan punya peran besar pada level geopolitik," kata Bara.
Brasil dan Belanda mempunyai hubungan bilateral yang sudah terjalin dengan Indonesia, yakni meliputi hubungan bilateral bidang ekonomi, budaya, hingga lingkungan hidup.
Yang perlu dilakukan saat ini adalah para diplomat harus aktif menjelaskan pentingnya pemberantasan penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Pidana mati adalah kebijakan Indonesia untuk memberantas kejahatan tersebut, meski tren global saat ini cenderung menjauhi hukuman mati.
Pada Minggu (18/1) dini hari, warga negara Belanda Ang Kim Soei dieksekusi mati karena memproduksi narkotika dalam jumlah besar. Ang memiliki pabrik ekstasi yang bisa memproduksi 150 ribu butir per hari dan juga memproduksi sabu dalam jumlah banyak. Adapun WN Brasil Marco Archer Cardoso Moreira berusaha menyelundupkan 13 kg heroin ke Indonesia.
(dnu/nrl)











































