Sejak pukul 11.00 WIB, Minggu (18/1/2015) tadi, Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Siveira Soares lebih banyak berkegiatan di luar. Kediaman dinasnya di Jalan Simprug Golf I No 99, Senayan, Jakpus juga terlihat sunyi.
Hanya ada 2 satpam dan seorang petugas yang berada dalam kediaman 2 lantai dan didominasi warna putih dan kuning itu. Dalam rumah yang disewa Kedutaan Brasil itu, Paulo sehari-hari tinggal bersama istrinya dan beberapa pekerja seperti koki dan asisten rumah tangga.
Sekitar pukul 15.05 WIB, Paulo pulang ke rumah dengan menumpangi mobil dinasnya Toyota Camry CD 36 01. detikcom berusaha untuk mewawancarainya, namun tak diberi izin. Pihak sekuriti juga tak tahu kapan Paulo kembali ke Brasil.
"Kita belum dapat infonya (Paulo akan ke Brasil)," ucapnya.
Rumah itu sudah ditempati Paulo sejak 3 tahun lalu saat ia menjabat sebagai Dubes Brasil. Rumah itu dikabarkan milik seorang pengusaha dan dikontrak dengan nominal cukup besar.
Hingga pukul 17.11 WIB, tak ada kegiatan dalam lingkungan rumah tersebut. Pihak keamanan pun tetap mengaku belum mendapat info pindahnya Paulo. Alasannya, mereka hanya bertugas menjaga keamanan rumah dan tak harus diinfokan kalau Paulo akan meninggalkan Indonesia.
Rumah dinas ini tak hanya menjadi tempat beristirahat saja buat Paulo. Beberapa kali ia melakukan perjamuan atau mengadakan rapat dengan beberapa duta besar yang menetap di Indonesia.
Penarikan Paulo dari Indonesia sudah dibenarkan oleh Menteri Luar Negeri. RI Retno LP Marsudi. "Laporan Dubes RI Brasilia sudah saya terima. Informasi resmi dari Belanda belum saya terima," kata Retno dalam pesan singkatnya, hari ini.
Pagi tadi, beberapa media asing sudah santer mengajarkan penarikan ini, terutama pasca proses eksekusi mati WN Brasil Marco Archer Cardoso Moreira (53) karena kasus narkoba. Ia ditangkap pada 2003 lalu setelah kedapatan oleh polisi membawa kokain 13,4 kgβ di Bandara Cengkareng. Ia dieksekusi mati bersama 5 orang lainnya malam tadi.
(bil/mad)











































