Ditipu Provos, Calon Siswa Secaba Datangi Mapolda Jateng

Ditipu Provos, Calon Siswa Secaba Datangi Mapolda Jateng

- detikNews
Kamis, 27 Jan 2005 16:50 WIB
Semarang - Merasa ditipu oknum Propam (Provos dan Pengamanan) dalam penerimaan siswa sekolah calon bintara (Secaba), sejumlah korban mendatangi Mapolda Jateng. Mereka minta Polda serius dalam menangani kasusnya.Para korban datang dengan didampingi orang tuanya dan beberapa perwakilan LBH Semarang. Begitu tiba di Mapolda, Jl Pahlawan Semarang, Kamis (27/1/2005), mereka segera menuju Bagian Reserse Umum. Pertemuan mereka berlangsung tertutup.Seusai pertemuan itu, Direktur LBH Semarang Asep Yunan Firdaus mengatakan, kedatangan mereka ingin menanyakan kejelasan kasus yang melibatkan oknum Propam Polda Jateng itu. Pasalnya, para korban penipuan itu telah membuat beberapa korban shock."Sebetulnya kita sudah membuat laporan pada 4 November tahun lalu. Tapi saya dengar, berkas perkaranya dikembalikan oleh Kejati. Terus bagaimana?" kata Asep dengan nada bertanya.Asep yang didampingi keluarga korban menjelaskan pihaknya siap kalaukepolisian membutuhkan saksi-saksi. Ada 11 orang korban yang siap dijadikan saksi untuk melengkapi berkas perkara itu. Dua orang korban berjenis kelamin perempuan.Dalam kasus itu, kepolisian menetapkan tiga tersangka. Mereka adalah Kompol Arif Oktavidianto (Propam), Mayor TNI Heriyanto (desersi), dan Mayor TNI Mudori (desersi). Ketiganya menipu korban dengan meminta uang sebanyak Rp 25 sampai 55 juta sebagai jaminan masuk Secaba."Ternyata setelah uang diberikan, korban tak jadi masuk Secaba. Lalu, korban perempuan juga dilecehkjan dengan diraba-raba pada saat tes kesehatan. Karena itu, kami ingin kasus ini diselesaikan," kata Asep.Dua korban yang ikut dalam pertemuan itu Laksono dan Ahmad Sobirinmengatakan, mereka gagal pada tes resmi Juli tahun lalu. Pada Agustus, mereka bersama 12 orang lainnya dites dan diharuskan membayar sejumlah uang pada ketiga tersangka. Tapi mereka tetap dinyatakan gagal."Tes dilakukan di Perum Aspol Kedung Mundu Semarang. Kami pikir itu kantor, tapi cuma rumah kontrakan," kata Laksono.Korban yang melapor ke Mapolda berasal dari Purbalingga, Purwokerto, dan Banjarnegara. Sementara keluarga korban lainnya tak bisa datang. Mereka mengaku sudah dua kali melapor tapi belum ada hasil memuaskan. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads