Ini Alasan CVR Black Box QZ8501 Ditaruh di Koper Berisi Air

Ini Alasan CVR Black Box QZ8501 Ditaruh di Koper Berisi Air

- detikNews
Selasa, 13 Jan 2015 22:47 WIB
Ini Alasan CVR Black Box QZ8501 Ditaruh di Koper Berisi Air
Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menerima black box AirAsia QZ8501, berupa Cockpit Voice Recorder (CVR). Para investigator yang menunggu kedatangan perekam suara di kokpit itu melihat benda berwarna oranye itu di dalam koper hitam berisikan air.

"‎Black box kemarin (Flight Data Record atau FDR) diletakkan di air juga. Itu pengalaman zaman dulu," kata Ketua Investigasi AirAsia QZ8501, Marjono Siswosuwarno di kantor KNKT, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2015) malam.

Pengalaman yang dimaksud adalah CVR merekam menggunakan pita hitam, seperti yang terdapat dalam kaset. Pengeringan secara mendadak dikhawatirkan akan membuat pita itu menjadi keriput atau rusak. Hal ini tak akan terjadi jika air tak masuk ke dalam kemasan pelindung yang berbentuk bulat di bagian tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Diharapkan tidak ada air yang masuk‎. Tetap di dalam kemasan berair agar sesuai dengan kondisinya di laut selama 2 minggu. Lalu dikeringkan oleh tim ahli sebelum di-download," ujar Marjono.

"Lalu di-download dari memory module ditransfer ke komputer. Setelah itu kami bisa mendengarkan percakapan di kokpit untuk mengetahui persiapan sejak di Bandara Juanda hingga peristiwa kecelakaan terjadi," tambahnya.

CVR tersebut menyimpan percakapan kapten pilot dengan co-pilot, pilot dengan ATC, area kokpit dan kru kabin yang berbicara kepada penumpang melalui pengeras suara. 4 Elemen itu akan ditranskrip oleh investigator yang berasal dari unsur pilot, yakni Capt Ertata Lananggalih dan Capt Santoso Sayogo.

"Area kokpit artinya ada mikrofon yang merekam suara di kokpit, misalnya suara pilot, kursi yang bergeser, warning instrument atau bip-bip. Setelah itu Ertata dan Santos (Santoso) bersama 2-3 pilot lainnya akan menranskrip," ujar dosen teknik mesin dan dirgantara ITB itu.

Setelah rekaman suara di CVR itu ditranskrip, maka para investigator ini akan mensinkronkan dengan data penerbangan QZ8501 atau FDR. Proses sinkronisasi ini disebutkan tidak mudah karena investigator harus mencocokan angka-angka dari FDR dengan percakapan pilot yang terekam CVR tanpa miss sedetik pun.

"Sinkronisasi kadang mudah, kadang sulit karena harus disesuaikan detik per detik. Dengan itu, kita bisa mengetahui kejadian umumnya," ucap Marjono.




(vid/fjp)


Berita Terkait