Dewa-Dewi di i-net detikcom
Kamis, 27 Jan 2005 14:15 WIB
Jakarta - Pembaca, jika Anda ngefans pada berita-berita teknologi informasi (TI) yang ada di kanal i-net detikcom, maka tentunya Anda tidak aneh dengandua nama ini: Ni Ketut Susrini dan Wicaksono Hidayat. Ya, merekalah penjaga gawang utama kanal tersebut.Keduanya masih cukup muda dan cukup baru di detikcom. Tapi prestasi darah muda ini sudah patut diacungi jempol. Duet mereka mampu menguak tema-tema garang di dunia TI yang kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan TI nasional.Meski nama lengkapnya Ni Ketut Susrini, gadis asli Bali ini lebih beken dipanggil Epi. Lho, kok jauh banget? "Soalnya pas saya kecil dulu saya mirip Tante Epi, tetangga di Bali dulu," alasan gadis kelahiran April 1980 ini."Tante Epi itu gendut dan bahenol," sambung jebolan UGM Yogyakarta ini sambil terkekeh. Tapi, Epi yang sekarang tidaklah tambun. Dengan tinggi 167 cm dan berat 50 cm, Epi justru pas menjadi seorang model. Apalagi wajah khas Balinya sungguh eksotik.Banyak hal yang mengesankan Epi selama bergabung di detikcom sejak April 2003, yaitu bertemu banyak orang terkenal dan juga tahu banyak isu-isu top sekitar TI. Namun dari semuanya itu, yang berkesan bagi lulusan MIPA ini adalah turut berperan dalam pemberitaan masalah tsunami.Bahkan dia sempat menjadi narasumber sebuah acara e-lifestyle mewakili detikcom di Metro TV untuk berbagi pengalaman kerjanya. "Saya biasanya memawancarai Roy Suryo, sekarang giliran dia interview saya," cerita lajang yang mengaku sudah punya pacar ini.Jika Epi suka ketawa-ketiwi di kantor, beda dengan Wicaksono Hidayat. Pria berambut kriwil dan berbadan subur ini lebih banyak tekun menyuguhkan jamuan untuk para pembaca. Meski low profile, tapi lulusan D3 Teknik Pengolahan Pangan Institut Teknologi Bandung (IPB) dan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) ini telah mampu mencatat sukses dengan menggaet tambatan hatinya, Hesti Pratiwi Afwiyani, ke kursi pelaminan. "Istri saya kini hamil 2 bulan," kata Wicak, sapaan mesra pemuda ini mengabarkan kabar gembira. Penganut jargon "diam adalah emas" ini adalah pribadi yang murah senyum, helpfull, ramah, dan yang menonjol, pintar. Saat kuliah di UI, pernah dalam satu semester nilainya semuanya A.Karena kepintarannya pula, ilmu TI yang membuatnya kualified untuk "berbakti" di detikcom pun didapatnya dengan belajar sendiri alias otodidak. Rahasianya? "Saya sudah jatuh cinta pada komputer sejak kecil," kata kelahiran April 1980 ini.Jika ditanya apa yang membuatnya kerasan di tengah keluarga detikcom yang selalu diuber deadline, Wicak dengan cepat menyahut,"Suasana kantor kayak keluarga sendiri. Juga ada "kebebasan" menulis."Tapi yang paling penting, "Saya bisa kerja di kantor tanpa alas kakialias barefoot," kilahnya.Pembaca, itulah sedikit cerita tentang isi dapur detikcom. Juru masak lainnya yang selama ini setia meladeni Anda, akan kami suguhkan di detik-detik mendatang. Sabar.
(nrl/)











































