120 Warga Sleman Kena Antraks

120 Warga Sleman Kena Antraks

- detikNews
Kamis, 27 Jan 2005 12:56 WIB
Yogyakarta - Diperkirakan 120 orang warga Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkena bakteri antraks. Mereka terkontaminasi antraks diduga setelah memakan hewan ternaknya yang mati mendadak setelah disuntik virus anti Antraks awal Desember 2004 lalu.Warga tiga dusun di Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem itu diketahui kena antraks setelah dilakukan tes darah oleh Dinas Kesehatan Sleman bekerjasama dengan pemerintah desa pada pertengahan Desember 2004 lalu. Saat ini warga yang terkontaminasi antraks telah mendapat obat-obatan antibiotik serta diawasi secara ketat oleh Dinkes Sleman."Dari 159 warga Dusun Banteng, Kaliurang Timur dan Penggeran yang diperiksa secara acak, yang terbukti terkena 120 orang atau 75 persen," kata Kepala Dinkes Sleman dr Sunartono kepada wartawan di Beran Sleman, Kamis (27/1/2005).Sunartono mengatakan, pihaknya mengetahui hasil tes darah itu setelah pihak Laboratorium Balai Penelitian Veteriner Bogor memberikan hasil tes itu. Sebanyak 8 orang dinyatakan`terkontaminasi dengan titer atau kadar antibodi melebihi batas normal."Delapan orang itu yang positif terkena. Lainnya bertiter rendah dan tidak berbahaya tapi mereka akan kami pantau terus," katanya.Menurut dia, orang dinyatakan positif terkena antraks bila kadar Elisa Unit (EU) di atas 100 hingga 1.000. Sedangkan dinyatakan negatif bila kadarnya 16 - 74 EU. "Tapi bila berkadar 74 - 100 EU bisa dinyatakan patut dicurigai karena berpotensi," tegas dia.Dijelaskan, para warga tertular akibat mengkonsumsi daging hewan ternak baik sapi atau kambing yang mati mendadak akibat antraks beberapa waktu lalu. Saat ini pihaknya bersama pemerintah desa setempat telah memberikan obat-obatan berupa antibiotik jenis ampicilin kepada warga yang terkontaminasi. Setiap hari mereka harus meminum 3 tablet ampicilin selama lima hari berturut-turut.Sunartono menambahkan, meski warga ada yang positif terkena, gejala-gejala klinis penderita antraks berupa demam panas tinggi, pusing serta luka terbuka dan melepuh pada kulit, belum nampak. "Mereka akan kita pantau terus dan kita optimis dapat kita obati hingga sembuh," katanya. (nrl/)


Berita Terkait