Pejabat BIN Terbelit Uang Palsu (2)
Hendro dan Syamsir Harus Jelaskan
Kamis, 27 Jan 2005 12:51 WIB
Jakarta -
Banyak pihak mensinyalir banyak hal yang masih belum terungkap dari penangkapan Kepala Staf Harian Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) BIN, Brigjen Pol (Pur) Syaeri. Misalnya jumlah dan lokasi penyebaran uang palsu karya Syaeri Cs tersebut. Termasuk juga bagaimana hal ini bisa terjadi di lembaga yang seharusnya menjadi mata dan telinga negara itu.Polisi memang sebaiknya tidak bekerja setengah-tengah dalam menuntaskan kasus ini. Polisi tidak perlu minder atau sungkan untuk meminta keterangan pucuk pimpinan BIN, baik yang masih atau sudah tidak lagi menjabat. Keterangan mereka tentunya sangat berarti bagi pengungkapkan kasus ini."Polisi harus berani meminta keterangan dari Kepala BIN, baik yang saat ini menjabat atau sebelumnya. BIN harus menjelaskan bagaimana petingginya bisa bertindak demikian," kata Ade Nasution, anggota Komisi I DPR kepada detikcom.DPR sendiri sudah mulai berancang-ancang untuk meminta penjelasan dari Ketua BIN, Mayjen (pur) Syamsir Siregar. Tinggal menunggu waktu yang tepat, pensiunan jenderal bintang dua itu bakal diundang ke Senayan. Yang jelas, pemanggilan ini dinilai akan membuat kasus ini lebih transparan.Sampai saat ini polisi memang masih adem ayem soal ini. Mereka belum berniat memanggil atau meminta keterangan langsung dari Kepala atau mantan Kepala BIN. Mabes Polri belum melihat adanya kepentingan untuk memanggil Kepala BIN Syamsir Siregar atau mantan Kepala BIN Hendropriyono.Polisi mengaku belum melihat adanya kepentingan untuk memanggil Syamsir maupun Hendro. Dalam pemeriksaan, baik saksi maupun terdakwa tidak ada yang menyebutkan keterlibatan keduanya. Polisi meminta keterangan dari seseorang jika memang dianggap perlu."Ngapain kita cari susah, memang tidak ada kaitannya kok," kata Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri Brigjen Andi Chaeruddin kepada detikcom.Demikian pula soal jumlah uang palsu yang konon mencapai beberapa kontainer. Andi menegaskan polisi bekerja berdasarkan fakta dan tidak akan mengomentari hal tersebut. Sinyalemen atau komentar-komentar seperti itu lebih bersifat opini."Begini, kalau perlu Anda lakukan investigasi sampai ke sana. Setelah Anda dapatkan bukti-bukti dan informasinya lalu serahkan ke kita. Itu baru wartawan yang good," tukas Andi.Persoalan mengenai kasus ini memang harus dilihat secara keseluruhan. Semua pihak hendaknya tidak membuat suasana keruh dengan mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tim penyidik sendiri tetap harus bekerja berdasarkan bukti-bukti yang ada.Pengamat militer, MT Arifin menilai, persoalan upal ini tidak terkait dengan masalah kepemimpinan lembaga. Sebab, bukan tidak mungkin kasus ini terjadi sejak kepemimpinan BIN jauh sebelum saat ini. Untuk menguak segala sesuatunya perlu hati-hati, terlebih soal jaringan tertentu yang terlibat di dalamnya."Intinya semua permasalahan ini harus dilihat secara keseluruhan. Menyangkut institusi BIN atau tidak, kemungkinannya bisa apa saja. Bisa iya juga bisa tidak," tutur MT Arifin.
(diks/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































