"Ya, karena (politik koalisi yang dimaksud-red) semakin lama semakin tidak relevan lagi," kata Agung usai perayaan Hari Natal dan Tahun Baru 2015 di Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Selatan, Sabtu (10/1/2015).
Lebih lanjut, Agung menyatakan politik koalisi yang terbentuk lewat Pilpres 2014 seharusnya ditinggalkan. Saatnya bersatu mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun bukan berarti Golkar masuk Koalisi Indonesia Hebat (KIH), ini karena segala bentuk koalisi sejenis harus diakhiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agung, momentum Natal ini bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan semangat islah di tubuh partai berlambang pohon beringin ini. Agung berharap islah bakal tercapai kurang dari 60 hari terhitung sejak gugatan kubunya ke kubu Ical dilakukan lewat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
"Setiap pertemuan pasti ada perkembangan. Masih ada waktu yang cukup tersedia, setahap demi setahap," imbuh Agung.
Apalagi, menurut Agung, saat ini perundingan sudah mencapai 60 persen. Sisanya akan dirundingkan kembali pada Selasa atau Rabu besok untuk membuahkan kesepakatan.
(dnu/bar)











































