PDIP: Isu Rekening Gendut Komjen Budi Cerita Lama

PDIP: Isu Rekening Gendut Komjen Budi Cerita Lama

Ropesta Sitorus - detikNews
Sabtu, 10 Jan 2015 15:49 WIB
PDIP: Isu Rekening Gendut Komjen Budi Cerita Lama
Jakarta - PDIP yakin Presiden Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menimbang masak-masak sebelum menunjuk Komjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri. Persoalan latar belakang Budi yang dilekatkan dengan isu rekening gendut Polri, dinilai hanya sebuah cerita lama.

“Terkait dengan itu (rekening gendut), dengan adanya transaksi yang mencurigakan, ini sudah cerita lama,” kata ketua DPP PDIP Bidang Hukum, Trimedya Panjaitan, saat berbincang di sela HUT PDIP ke-42 di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Sabtu (10/1/2015).

Trimedya menuturkan, isu rekening gendut yang dilekatkan pada Budi adalah stigma yang sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Dia meyakinkan, mantan ajudan Megawati itu sudah mengklarifikasi temuan PPATK soal rekeningnya, baik kepada internal Polri maupun kepada PPATK.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anggota Komisi III DPR ini menambahkan dia akan menghormati keputusan Jokowi. Bahkan menurutnya pemilihan Budi sudah pas karena perwira tinggi itu mempunyai banyak prestasi, salah satunya menjadi ajudan Megawati. Menurutnya tak sembarang orang bisa menjadi ajudan.

Lebih lanjut, mengenai protes penolakan dari sejumlah pegiat korupsi, Trimedya malah menilainya sebagai upaya menjatuhkan Budi.

“Itu kampanye hitam pak Budi Gunawan soal rekening gendut itu. Kalau mau jujur ada banyak nama-nama lain juga kan (yang dikabarkan punya rekening gendut),” pungkasnya.

Dalam kesempatan ini, Trimedya juga menyanggah peran Mega dalam menyodorkan sang mantan anak buah. “Enggak (ada usulan dari PDIP), itu hak prerogative presiden. Enggak ada masukan dari Bu Mega. Sepanjang saya tahu bu Mega tidak pernah menyorong-nyorongkan Budi Gunawan kepada pak Jokowi,” kata Trimedya.

Dia menambahkan Jokowi pasti mempertimbangkan memilih Budi karena alasan sudah kenal. Dia yakin Jokowi tidak akan asal pilih tanpa pertimbangan penuh, apalagi sekedar karena titipan.

“Soal penilaian subjektif, itu pasti ada. Enggak mungkin orang yang enggak punya kemampuan jadi ajudan. Jadi ajudan itu kan pasti orang-orang pilihan,” tuturnya.



(ros/fjr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini