Sejak ditemukannya jenazah korban pesawat AirAsia yang jatuh di perairan Pangkalan Bun, warga sekitar turut berpartisipasi. Tak sedikit warga yang memberikan bantuan, baik tenaga maupun materi, di posko gabungan di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun.
Di sela-sela itu, sejumlah warga terlihat berada di lokasi saat jenazah korban satu persatu hendak dibawa menuju Surabaya setelah identifikasi visual. Seperti yang terjadi hari ini, Jumat (9/1/2014). Ada beberapa ibu warga Pangkalan Bun yang ikut melihat keberangkatan 7 jenazah yang telah melalui proses identifikasi visual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Seroja, Pangkalan Bun ini mengaku masih selalu menangis meski sudah beberapa kali melihat prosesi keberangkatan jenazah. Rusdianengsih berharap agar semua jenazah segera ditemukan.
"Saya kalau ke sini lihat jenazah keluar air mata terus, ini gimana ya, saya mikirin keluarganya, seperti apa rasanya jadi mereka. Semoga semua jenazah cepat ketemu," tutur Rusdianengsih sambil meneteskan air mata.
Senada dengan Rusdianengsih, warga Pangkalan Bun lainnya yang ikut menyaksikan keberangkatan jenazah, Suridaria juga merasakan hal yang sama. Menurutnya, tak ada harga berharga sebesar apapun yang mampu menggantikan nyawa korban Pesawat AirAsia rute Surabaya-Singapura itu.
"Saya terenyuh begitu melihat peti dikeluarkan dari ambulance lalu dimasukan ke pesawat. Prosesinya memang sebentar tapi terasa sakral, saya menghayati betul-betul," kata Suridaria di lokasi yang sama.
"Sedih, rasanya tidak bisa diungkapkan. Tidak ada harta sebesar apapun yang bisa menggantikan mereka," sambungnya.
Prosesi pemberangkatan jenazah memang selalu dilakukan oleh jajaran tim SAR. Perwakilan dari unsur Basarnas, TNI AL, AU, AD, dan Polri selalu memberikan hormat saat jenazah hendak dimasukkan ke dalam pesawat yang akan mengantar ke Surabaya.
"Waktu saya lihat pertama kali kayak nggak ada tulang rasanya, lemas. Begitu lihat kotak keluar (dari ambulance) merinding terenyuh. Rasanya sedih, apalagi keluarganya langsung. Makanya saya ajak anak, cucu, keluarga dan teman untuk lihat. Kebetulan rumah kami dekat, kami mewakili warga Pangkalan Bun mengantar dari sini," tutup wanita berkerudung ini.
(ear/vid)










































