Mendikbud Anies Kenalkan e-Sabak untuk Belajar Mengajar

- detikNews
Rabu, 07 Jan 2015 16:52 WIB
Jakarta - Era digital menjadi menjadi perhatian pemerintah, khususnya dalam dunia pendidikan. Di awal tahun 2015 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan sebuah inovasi, mengganti era penggunaan buku pelajaran dari kertas menjadi e-book (electronic book), yang disebut e-sabak.

"‎Ke depan, dunia pendidikan Indonesia akan menggunakan e-book, atau e-sabak, dalam bentuk tablet. Kami ke depan ingin menggunakan tablet sebagai alat untuk belajar mengajar," ujar Mendikbud Anies Baswedan kepada wartawan dalam jumpa pers di kantor Kemdikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/1/2015).

Walaupun text book atau buku pelajaran nantinya akan menggunakan e-sabak, namun buku yang akan dipakai siswa untuk menulis tetap menggunakan buku tulis biasa.

‎"Buku tulis tetap menggunakan kertas, tapi buku teks nya menggunakan elektronik, sehingga kita bisa menekan biaya jauh lebih murah, dan kualitas buku yang dikirimkan ke anak tidak dipengaruhi faktor lain, seperti jenis kertas, logistik, dan lain sebagainya," jelas Anies.

Hal yang melatarbelakangi gagasan ini selain era digital yang berkembang pesat, juga karena Kemdikbud ingin semua wilayah di Indonesia dapat menikmati pendidikan secara merata dan setara.

"Kami memiliki 50 juta siswa dan 3 juta guru di Indonesia. Kalau saat ini di kota besar, teknologi gampang dicari, tidak demikian halnya dengan mereka yang tinggal di kawasan 3T," kata dia.

"Kemendikbud memiliki jaringan yang luas, kami memiliki lebih dari 208 ribu sekolah di Indonesia dan kami memiliki aktivitas komunikasi, baik menyangkut data atau aktivitas belajar. Jaringan yang luas ini berpotensi untuk dikembangkan lebih luas dari sekedar aktivitas pendidikan saja," sambungnya.

Sehingga, dalam pendistribusian e-sabak ini, Kemdikbud menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) serta Telkom sebagai service provider e-sabak. Awal distribusi, Mendikbud mengutamakan wilayah-wilayah perbatasan.

"‎Kami bicara dengan Kominfo dan Telkom untuk memulai fase e-book untuk anak-anak kami. Titik utama distribusinya adalah wilayah perbatasan, atau wilayah 3T ini. Ada 3 wilayah utama, yaitu Kalimantan, Nusa Tenggara dan Papua," ungkap Anies.

Melalui program e-sabak ini, Anies berharap ketimpangan dalam menyebabkan kualitas pendidikan diharapkan tidak ada lagi.

"Harapannya ketimpangan akses pendidikan berkualitas dapat kami kurangi, karena mereka yang di tempat terjauh bisa dapatkan kualitas informasi yang sama dengan mereka yang di kota besar. Nanti kami akan kerjasama dengan Telkom untuk tindaklanjuti gagasan ini," tutupnya.


(rni/ndr)