Jika sudah begitu, maka cara identifikasi primer yang bisa dilakukan adalah dengan sidik jari, gigi, dan DNA. Untuk uji DNA bisa dilakukan untuk mengenali jenazah meskipun dalam kondisi parah sekalipun.
"Ada beberapa macam cara yang bisa dipakai, misalnya DNA. Meskipun DNA sudah putus-putus atau terpotong tidak akan bermasalah untuk identifikasi," kata ahli biologi molekuler, Dr. Herawati Sudoyo, MS, PhD kepada detikcom, Rabu (7/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah pernah uji DNA tulang yang ribuan tahun, yang ribuan tahun masih bisa, apalagi yang itu (korban AirAsia)," ujar perempuan yang bekerja di Lembaga Eijkman, Jakarta itu.
Sementara untuk menangani jenazah tersebut, tim SAR harus menggunakan pelindung, seperti pakaian khusus dan sarung tangan. Hal tersebut sesuai dengan standar keamanan. Namun yang harus diperhatikan menurut Herawati adalah jika ada yang membantu namun tidak menggunakan pakaian keamanan.
"Yang jadi masalah kalau ada orang lain yang tidak mengetahui bagaimana caranya, namun ikut dalam proses tersebut," ucap Herawati.
Sebelumnya koordinator DVI Polri Kombes dr Hariyanto di RSUD Imanuddin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah mengatakan dua jenazah itu sebelum diterbangkan ke Surabaya sempat dibaringkan di Cold Storage agar tidak semakin rusak. Kondisi keduanya memang sulit dikenali.
"Untuk ciri-ciri fisik sudah sangat sulit dikenali. Bagian tubuh yang tidak tertutup pakaian sudah rusak dan beberapa sudah terlepas," kata Hariyanto.
(slm/mad)











































