Penderita Diare di NTT Bertambah, 20 Orang Tewas
Rabu, 26 Jan 2005 17:34 WIB
Kupang - Penderita dan korban tewas akibat diare di Nusa Tenggara Timur terus bertambah dalam sepekan terakhir. Sedikitnya 1.034 warga dipastikan terserang diare di empat kabupaten dan kota, sedangkan korban tewas telah mencapai 20 orang. Daerah terparah yang terserang, yakni Kabupaten Flores Timur dengan jumlah kasus 993 dan 16 di antaranya tewas, kabupaten Belu dua orang tewas dan 24 lainnya dirawat. Sementara Kabupaten Kupang korban tewas sebanyak dua orang, 11 dirawat dan Kota Kupang sebanyak enam kasus.Data yang diperoleh dari Biro Bina Sosial NTT menyebutkan, terjadi peningkatan jumlah penderita di empat kecamatan yang ada di Kabupaten Flores Timur dalam sepekan terakhir. Kecamatan Larantuka, terjadi peningkatan kasus, yakni dari 134 menjadi 354 kasus, Witihama 73 menjadi 207 kasus, Klubaggoit 14 menjadi 17 kasus, Solor Timur 149 menjadi 151 kasus dan Adonara Barat dari 1 kasus menjadi enam kasus. Sedangkan di Kecamatan Adonara Timur, terjadi penurunan kasus yakni dari semula 285 menjadi 207. Kepala Bagian Kesejahteraan Biro Bina Sosial Setda NTT, Fransiska Palan Bolen, kepada wartawan di Kupang, Rabu (26/1/2005) mengatakan, timnya masih melakukan pemantauan di beberapa kabupaten yang diindikasikan sebagai daerah rawan diare di NTT. "Dari keseluruhan korban yang tewas di tiga kabupaten, 18 diantaranya murni karena terserang diare sedangkan dua korban lainnya di kabupaten Belu karena komplikasi dengan penyaki pneumonia," kata Fransiska.Berdasarkan hasil survei dan pemetaan kerawanan yang dilakukan dinas kesehatan, disimpulkan bahwa terdapat delapan kabupaten di NTT yang sangat rawan terhadap penyebaran wabah diare. Delapan kabupaten itu, Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Kabupaten Belu, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, Sikka, Flores Timur dan Manggarai Barat. "Sebagian besar kasus diare terjadi karena warga kesulitan mendapatkan air bersih sehingga mengkonsumsi air mentah yang diambil dari sumber-sumber air yang sudah terkontaminasi dengan bakteri ecoli," kata Fransiskus Pello, Kepala Sub Dinas Penanggulangan Kesehatan Dinas Kesehatan NTT.
(asy/)











































