Kandidat Perempuan Irak Kampanye Lewat Telepon
Rabu, 26 Jan 2005 17:09 WIB
Jakarta - Mungkin perempuan Indonesia patut bersyukur karena bisa bebas berkampanye ria di tempat publik saat Pemilu. Sebab tidak demikian halnya dengan kandidat perempuan Irak. Kampanye terpaksa dilakukan lewat telepon.Kesulitan dan hambatan yang ditemui kandidat perempuan di Irak begitu pelik mulai dari hal-hal kecil, yang bagi sebagian perempuan di dunia ini tidak merasakannya.Sudah jadi budaya di Irak kalau perempuan tidak berjalan seorang diri di tempat umum. Jadi tidak bisa dibayangkan jika seorang kandidat perempuan melakukan orasi mempromosikan dirinya di depan kerumunan orang.Namun hal itu tidak mematahkan semangat Balsam Hashim al-Hilli. Perempuan Irak yang mengasingkan diri di luar negeri selama 35 tahun ini pantang menyerah untuk ikut serta sebagai kandidat dewan dalam Pemilu yang baru pertama kalinya diselenggarakan di Irak, yakni pada 30 Januari 2005."Meskipun saya hidup di luar negeri selama 35 tahun, tapi sejujurnya saya selalu memimpikan tanah kelahiran saya," katanya kepada CNN, Rabu (26/1/2005).Dinding kantor kampanye Balsam tampak dipenuhi dengan poster kampanye yang menggambarkan kegembiraan. Namun apa daya, kampanye harus dilakukan lewat telepon."Perempuan tidak jalan sendirian di jalanan. Mereka takut diculik, bukan untuk alasan politik, tapi untuk tebusan. Ini benar-benar masalah besar," katanya.Hal senada disampaikan seorang kandidat perempuan dari Partai Aliansi Irak Bersatu yang menolak disebutkan namanya. Dia mengaku takut namun tetap bertekad untuk maju."Ini tanggung jawab saya dan tanggung jawab semua orang. Saya memang seorang perempuan, tapi saya harus terlibat dalam kehidupan politik," ujarnya.Perempuan Irak memang menghadapi perubahan politik. Dalam menghadapi Pemilu, perempuan didorong untuk tidak hanya memilih, tapi juga berpartisipasi. Penyelenggara Pemilu Irak mencatat 30 persen kandidat adalah perempuan.Sejak rezim Saddam Hussein jatuh, beberapa perempuan Irak di berbagai instansi pemerintah transisi telah dibunuh. Begitu juga halnya dengan para perempuan yang menjadi insinyur, profesor universitas, dan guru sekolah. Hal ini menimbulkan efek yang menakutkan.Jumpa Pers Dikawal MiliterDi Najaf, 6 kandidat perempuan mengadakan jumpa pers. Namun di luar bayangan orang pada umumnya, acara itu mendapat pengawalan ketat oleh 200 pasukan AS dan Irak.Dengan mengenakan gamis dan kerudung hitam, para kandidat perempuan itu berdiri di sebuah podium. Pada dinding di belakang podium terpampang Deklarasi PBB mengenai Hak Asasi Manusia.Seorang kandidat perempuan bernama Faliha Kathem Hassan mengungkapkan kalau Pemerintahan Partai Baath telah mengeksekusi 3 anggota keluarganya. "Saya ingin menolong menyeimbangkan tindakan represi yang telah dilakukan Saddam dengan mendirikan kantor," katanya.Para kandidat perempuan yang kebanyakan berusia 30-an tahun itu menuturkan kegiatan kampanye dilakukan dengan cara dari mulut ke mulut, mengadakan seminar, dan mengunjungi para pemilih di Najaf."Keluarga saya mencemaskan keselamatan saya. Tapi Najaf sekarang aman. Saya melakukan mobilitas sehari-hari dengan menggunakan taksi," kata Nawal Abdel Rida.Dia menuturkan kalau 2 saudara laki-lakinya telah dibunuh saat rezim Saddam Hussein berkuasa. Salah satu abangnya dibunuh karena desersi, yakni meninggalkan dan membelot dari angkatan bersenjata.Sedangkan satu abangnya lagi dibunuh oleh Ali Hasan al-Majeed, sepupu Saddam karena ikut dalam pemberontakan kelompok Syiah melawan Sunni pada tahun 1991. Sunni merupakan minoritas di Irak. Namun di bawah pimpinan Saddam, Sunni menguasai Irak.
(sss/)











































