Merogoh Kocek Dalam-dalam Demi Kejelasan Nasib Para Korban

ADVERTISEMENT

AirAsia Ditemukan

Merogoh Kocek Dalam-dalam Demi Kejelasan Nasib Para Korban

- detikNews
Selasa, 06 Jan 2015 13:47 WIB
Jakarta - Butuh banyak dana dalam sebuah operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat. Dari berbagai peristiwa yang terjadi selama ini, uang miliaran sampai triliunan rupiah harus rela dikeluarkan. Namun semua sepadan demi memberi kejelasan nasib pada keluarga korban.

Hingga kini, pihak Basarnas belum mau membuka berapa anggaran yang sudah dihabiskan selama masa 10 hari operasi pencarian dan evakuasi. Kepala Basarnas Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo menegaskan, tak mau bicara soal duit. Baginya, yang terpenting saat ini operasi sudah berjalan.

"Yang penting operasi jalan, semua terdukung, semua ter-record ini. Jadi nanti pada akhir-akhir baru saya sampaikan," kata Soelistyo di kantor Basarnas, Jl Angkasa, Jakpus, Selasa (6/1/2015).

Menurutnya, ada beberapa pihak yang memberi bantuan, terutama bahan bakar. Mulai dari Pertamina, Total dan lain-lainnya. Kapal TNI AL pun tetap bisa berjalan dengan dukungan mereka. Jumlahnya ratusan kiloliter untuk kebutuhan bahan bakar kapal dan pesawat.

Dalam data yang dipublikasikan Basarnas pada 31 Desember 2014 lalu, 17 unit helikopter, 9 unit pesawat dan 42 unit kapal dikerahkan untuk mencari korban. Bila ditambah dengan armada asing, jumlahnya jauh lebih banyak lagi.

Biaya operasional per unit armada, tidaklah murah. Sebagai gambaran, KRI Banda Aceh membutuhkan sedikitnya 300 kiloliter solar untuk bisa beroperasi. Harga solar sekarang Rp 7.250 per liter, artinya biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 2,2 miliar. Itu baru untuk bahan bakar, tidak termasuk operasional kru dan peralatan.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko pernah memberikan gambaran soal biaya perjalanan kapal. Menurut dia, satu unit kapal perang kelas frigate dengan panjang sekitar 100 meter butuh bahan bakar solar Rp 900 juta untuk berlayar sehari penuh. Biaya solar semakin membengkak bila wilayah patroli kapal luas. Jika dikalikan dengan 42 kapal, maka jumlahnya sekitar Rp 40 miliar per hari.

Biaya operasional pesawat juga tidak murah. Saat program rekayasa cuaca, Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi, Heru Widodo, sempat memakai pesawat Hercules TNI AU. Dia menyebut, untuk satu jam terbang dengan pesawat Hercules membutuhkan biaya bahan bakar avtur sekitar Rp 40 juta. Sedangkan untuk biaya perawatannya sekitar US$ 4.000 per jam.

Berkaca pada kasus jatuhnya pesawat Adam Air tahun 2007 lalu, Ketua KNKT saat itu Setio Rahardjo mengatakan, biaya operasi SAR per harinya mencapai Rp 1,7 miliar-Rp 1,8 miliar. Bila dibandingkan dengan situasi ekonomi saat ini, pasti jumlahnya lebih mahal dari itu.

Sementara untuk biaya mengangkat black box Adam Air, dibutuhkan dana sekitar Rp 9,9 miliar. Tak heran, operasi pengangkatan kotak hitam baru bisa dilakukan tujuh bulan setelah kecelakaan. Padahal lokasinya sudah terlacak sejak lama.

Bagaimana dengan operasi pencarian Malaysia Airlines MH370? Media internasional pernah menyebut upaya pencarian pesawat yang hingga kini masih misterius itu sebagai yang termahal dibandingkan dengan operasi lain.





Reuters pernah menghitung, biaya yang dikeluarkan untuk mencari pesawat tersebut pada hari ke-30 mencapai US$ 44 juta atau sekitar setengah triliun rupiah. Itu pun baru hasil kalkulasi yang digelontorkan oleh tiga negara seperti Tiongkok, Vietnam dan Amerika Serikat. Puluhan negara lainnya, seperti Inggris, Prancis, Selandia Baru dan Korea Selatan, tidak terakumulasi. Padahal kontribusi mereka cukup banyak.

Sebagai contoh, Inggris mengirim HMS Tireless yang berbahan bakar nuklir untuk membantu pencarian. Belum jelas berapa biaya operasionalnya, namun diprediksi sangat mahal mengingat bahan bakarnya yang langka.

Khusus Australia, mereka juga banyak mengeluarkan dana. Sebagai gambaran, untuk membiaya operasional kapal HMAS Success saja butuh A$ 550.000 per hari atau setara dengan Rp 5,7 miliar.

Pengeluaran hingga US$ 44 juta dolar untuk MH370 sudah menyamai biaya pencarian yang dilakukan untuk pesawat Air France yang jatuh di perairan Atlantik pada tahun 2009 lalu. Kala itu, biaya untuk Air France yang dirilis secara resmi adalah 32 juta euro atau setara dengan US$ 44 juta. Padahal, MH370 baru berjalan sebulan, sedangkan Air France nyaris menghabiskan waktu hingga dua tahun untuk melokalisir kotak hitamnya.

Meski begitu, banyak pihak menilai upaya pencarian Air France sebetulnya tiga-empat kali lipat dari biaya yang dirilis resmi. Namun, jumlah tersebut tetap diprediksi bakal dilewati oleh MH370 yang ditaksir bakal mengeluarkan dana hingga ratusan juta dolar AS.

Dari semua negara yang pernah berurusan dengan insiden kecelakaan pesawat, dana besar memang sepertinya bukan masalah. Kejelasan nasib para penumpang dan kru jauh lebih penting. Semua semata-mata demi memberi kabar pasti pada keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, khusus untuk pencarian AirAsia QZ8501, tak ada batas waktu yang ditentukan untuk pencarian.

"Bagi kami perintah itu menambah semangat untuk kerja kami maksimal. Perintah beliau kami harus evakuasi saudara-saudara kami yang jadi korban. Tidak ada batasan hari. Saya akan lakukan sampai tuntas," kata Soelistyo.

(mad/nrl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT