Tampak mengenakan kaus ungu dan sepatu kets, terlihat kasual tanpa menampakan embel-embel tenaga medis, dr Suyuti terus berkordinasi dengan stafnya. Dia ingin memastikan bahwa korban yang diantarkan diperlakukan dengan baik.
"Saya siaga 24 jam lah. Paling pulang untuk mandi saja, sudah itu ke sini lagi," tutur Suyuti di sela kesibukannya di RSUD Imanuddin, Jl Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Kamis (1/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hanya pas hari pertama saja. Karena langsung ditunjuk, maka saya lupa mempersiapkan logistik untuk staf-staf saya. Tapi akhirnya mereka bisa makan setelah agak sore," imbuh dia.
Perawatan yang difasilitasi oleh RSUD Imanuddin tak sampai ke tahap identifikasi ante mortem. dr Suyuti pun berkata, bahkan untuk membersihkan pun tak dilakukan.
"Kami sediakan tempat untuk DVI dari polisi tapi tak sampai identifikasi. Yang penting setelah sampai sini dirawat dengan baik dan dimasukan ke dalam peti," ungkap pria kelahiran 1968 ini.
Hingga kini sudah ada tujuh jenazah korban AirAsia QZ8501 yang ditangani pihaknya. Namun ada pula rupanya hal yang belum dimiliki oleh RSUD ini di awal.
"Kami waktu itu belum sediakan kantung jenazah. Karena itu memang bukan kewajiban RS untuk memiliki. Tapi setelah itu kami mendapatkan sesuai kebutuhan," pungkas dia.
Berkerumun pula para relawan dari PMI di area rumah sakit. Meski demikian, Suyuti mengaku pihaknya masih belum membutuhkan banyak tenaga tambahan untuk penanganan ini.
"Staf kami juga banyak yang cuti. Mereka bilang, kalau sewaktu-waktu dibutuhkan akan siap masuk. Tetapi saya pikir pakai tenaga yang ada dahulu," pungkas dia.
(bpn/spt)











































