Pada hari Selasa (30/12/2014), Komandan Gugus Keamanan Laut Barat yang bertugas sebagai Komandan SAR Laut, Laksma Abdul Rasyid menjelaskan proses SAR terbagi menjadi 13 sektor. Sektor V menjadi lokasi penemuan serpihan dan 3 jasad penumpang QZ8501.
Atas penemuan kali pertama itu, 11 KRI lainnya diperintahkan merapat ke sektor V dan 3 jasad tersebut diterbangkan heli ke KRI Banda Aceh dan dijemput untuk dibawa ke Pangkalan Bun. Namun karena cuaca buruk, hanya 2 jasad yang berhasil dibawa ke Surabaya, dari Pangkalan Bun, pada saat itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau jasad telah ditemukan, badan pesawat berlogo AirAsia itu masih misterius. Sehingga KRI Bung Tomo, KRI Hassanuddin, KRI Yos Sudarso dan KRI Pulau Rengat dengan kemampuan sonar merapat untuk mencari wujud si burung besi.
Jika sosok pesawat itu ditemukan, operasi berlanjut pada penyelaman. Beberapa penyelam pun siap berjibaku di bawah air untuk evakuasi.
"Teknis penyelaman itu menurunkan jangkar, orientasi medan, ikatkan tali sehingga penyelam selanjutnya langsung ke sasaran. Tidak perlu mencari-cari lagi. 7 Penyelam dalam 1 tim," kata Abdul.
Pada hari Rabu (31/12/2014), Komandan Kapal Letkol Arief Budiman menyatakan KRI Bung Tomo yang memiliki kemampuan sonar telah merapat. Kondisi gelombang ombak saat itu mencapai 3 meter.
3 Jenazah kembali ditemukan, 1 jasad di KRI Yos Sudarso, 1 jasad di KRI Hasanuddin dan 1 jasad di kapal Malaysia KD Lekir. Sementara 1 jasad yang ditemukan sehari sebelumnya masih berada di KRI Banda Aceh. Sehingga total jenazah tercatat sebanyak 6 orang.
Sempat terjadi kekeliruan jumlah korban ketika sebuah jaket merah ditemukan mengapung di lokasi evakuasi tampak seperti dikenakan manusia. Namun ternyata jaket itu mengembung karena gulungan ombak.
Kemudian 47 penyelam dari TNI AL on board dan siap menyelam kapanpun bodi pesawat QZ8501 ditemukan. Namun cuaca memburuk, angin mencapai 30 knot dan gelombang 3 meter terus membesar hingga 5 meter. Hujan semakin lebat, jarak pandang menjadi terbatas, membuat heli dan pesawat harus mendarat karena berbahaya jika mengudara.
Pada hari Kamis (1/1/2014), KRI Banda Aceh sebagai pusat komando di lautan lepas sedang lego jangkar di sisi selatan Selat Karimata, 180 Km dari Pangkalan Bun. Kedalaman laut di posisi itu mencapai 30 meter sehingga masih mampu diselami para penyelam. Cuaca juga dilaporkan lebih bersahabat.
4 Jenazah penumpang QZ8501 juga telah berhasil dievakuasi ke daratan. Para korban itu lalu dibawa ke RS Imanuddin, Pangkalan Bun, sebelum dikirim ke Surabaya hari ini.
Kapal-kapal dan pesawat bantuan dari negara asing juga mulai beroperasi hari ini, seperi USS Sampson dan pesawat P3C Orion dari Korea Selatan. Tim SAR gabungan berlomba dengan waktu dan berhadapan dengan potensi cuaca buruk dalam operasi hari ini.
(vid/rvk)











































